sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dua sisi mutilasi di Bekasi: Siapa korban, siapa pembunuh?  

A masih tergolong anak-anak saat memutilasi korban dan membuang potongan tubuhnya di berbagai titik di Bekasi.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Minggu, 20 Des 2020 10:27 WIB
Dua sisi mutilasi di Bekasi: Siapa korban, siapa pembunuh?  

A, 17 tahun, tengah asyik bermain PlayStation di kawasan Kranji, Kota Bekasi, Jawa Barat, saat personel Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkapnya pada Rabu (9/12). Warga setempat geger. Tak ada yang menyangka jika remaja yang sehari-hari bekerja sebagai manusia silver itu pelaku mutilasi. 

Dua hari sebelumnya, warga menemukan potongan tubuh pria bernama Dony Saputra di berbagai lokasi Kayuringin, Bekasi Selatan, Bekasi. Kepala dan badan Dony ditemukan terpisah. Tangan kanan dan tangan kiri Dony juga putus. 

Kanit 1 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKP Herman Edco Simbolon mengatakan A langsung mengakui perbuatannya memutilasi korban usai ditangkap. Menurut Herman, A membunuh Dony lantaran sakit hati karena disodomi berulang kali. 

"Korban sakit hati, tidak terima selalu dipaksa untuk melayani untuk melakukan persetubuhan sesama jenis," kata Herman saat berbincang dengan Alinea.id melalui sambungan telepon pada Jumat (18/12) malam.

Dony dan A berkenalan pada Maret 2019. Sejak saat itu, menurut A, Dony berulang kali menyetubuhinya. Pada malam pembunuhan, Donny mengajak A ke rumahnya di Jalan Cendana Nomor 14A Kampung Pulogede RW 05/RW 11, Kelurahan Jakasampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Dalam rekonstruksi kejahatan yang digelar pada Rabu (16/1) lalu, keduanya "terlihat" terlibat cek-cok saat berada di rumah Dony. Saat itu, A berniat pergi ke sebuah warnet, namun dilarang Dony. A kemudian mengalah dan memilih memainkan gawai milik Dony. 

Tak lama A tertidur menyusul Dony yang telah terlelap lebih dulu. Lepas tengah malam, Dony terbangun dan mengajak A berhubungan badan. "Si A ini diancam dengan menggunakan pisau dan diiming-imingi uang," jelas Herman.

Usai berhubungan badan, Dony kembali terlelap. A kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Ia mengambil sebilah golok bergagang kayu yang berada di kamar mandi. A kemudian menusuk Dony berkali-kali hingga korban tewas.

Sponsored

"A memutilasi korban untuk memudahkannya menghilangkan jejak, terutama karena badan korban berat," ujar Herman. 

Polisi menjerat A dengan pasal berlapis, yakni Pasal 340, Pasal 338 dan Pasal 365 tentang Pembunuhan Berencana dengan pidana maksimal hukuman mati.

"Dalam perspektif yang kami tangani, awalnya kan dari laporan penemuan mayat yang sudah dimutilasi. Jadi, yang kami tangani adalah kasus pembunuhannya," jelas Herman.

Meski demikian, Herman mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya, Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam penyidikan dan pendampingan korban. 

"Kalau masalah dia sebagai anak, sebagai korban, itu kan pelaku juga sudah meninggal dunia. Terus secara ini (hukum) juga, ya, (kasus sodomi terhadap A) tidak bisa diproses lagi karena (korban) sudah meninggal dunia," kata dia.

Ilustrasi mutilasi. Foto Pixabay

Deretan kasus serupa 

Ini bukan kali pertama pembunuhan bermotif dendam karena dilecehkan terjadi. Pada awal Maret lalu, publik juga digegerkan oleh kasus pembunuhan yang melibatkan remaja berusia 15 tahun berinisial NF di Sawah Besar, Jakarta Pusat. 

Ketika itu, NF membunuh tetangganya yang baru berusia 5 tahun dan menyimpan mayatnya di dalam lemari rumahnya. Ia mengaku membunuh karena terinspirasi film. 

Belakangan, NF ternyata korban pelecehan seksual oleh paman dan kekasihnya. Saat membunuh korban, NF sedang hamil sekitar 14 minggu. Kendati demikian, hakim Pengadilan Negeri Jakpus menyatakan NF bersalah dan memvonis hukuman dua tahun penjara.

Kasus A dan NF menunjukkan betapa berbahayanya dampak kekerasan seksual yang dialami anak-anak. Pada kasus A, misalnya, menurut Sekretaris Jenderal Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Henny Hermanoe, dendam dan kekecewaan telah disodomi berulang kali menjadi pemicu pembunuhan. 

"Jadi, adanya dendam, adanya kekecewaan. Selama ini, (A) selalu berada pada posisi inferior, maka ketika dia punya kemampuan untuk melakukan sesuatu dia melakukan hal itu (memutilasi korban)," katanya kepada Alinea.id, Kamis (17/12).

Pola serupa juga terjadi dalam kasus Andi Sobari alias Emon, pelaku sodomi terhadap 47 anak yang pernah menggegerkan publik, beberapa tahun lalu. Menurut Henny, Emon menjadi predator seks anak karena pernah jadi korban sodomi di masa lalu. 

"Ada banyak lagi pelaku-pelaku sodomi yang menjadi korban di masa kecilnya. Predikat tidak mampu dan inferior itu akan dia pupuk terus hingga ketika dia mempunyai kemampuan untuk melakukan kejahatan yang pernah dilakukan orang terhadap dia atau dengan kelakuan lainnya," kata Henny.

Dalam kasus A, menurut Henny, sudah tidak berlaku diversi atau pengalihan penyelesaian perkara di luar pengadilan sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Diversi itu antara lain persidangan secara tertutup dan mendapat pendampingan Bapas dan lain sebagainya.

"Tetapi diversi sudah tidak diberlakukan lagi karena ancaman hukuman dari kejahatan yang dilakukan itu di atas 7 tahun dan usianya sudah 17 tahun," kata Henny.

Terkait apakah A memutilasi korban karena faktor dendam, menurut Henny, hal itu bisa dilihat dalam proses penyidikan, termasuk menjadi pertimbangan hakim. Kendati demikian, Henny mengatakan, hukuman yang dijatuhkan kepada A harus menimbulkan efek tangkal dan efek jera.

Kasus ini, kata Henny, harus bisa menjadi contoh bagi korban-korban sodomi untuk tidak melakukan pembunuhan. Di sisi lain, A juga harus dibikin jera meskipun tidak perlu sampai dihukum layaknya pembunuh dewasa.

"Rehabilitasi secara tuntas perlu dilakukan karena anak ini akan berada di lapas anak. Bukan penjara, ya. Tentu saja di dalamnya sebagai tempat khusus pemulihan untuk anak dan itu pun dibina," kata Henny.

Kasus-kasus kekerasan seksual yang dialami anak terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), sejak Januari hingga 31 Juli 2020, tercatat ada 4.116 kasus kekerasan pada anak di Indonesia.

Yang paling banyak dialami oleh anak adalah kekerasan seksual. Rinciannya, ada 2.556 korban kekerasan seksual, 1.111 korban kekerasan fisik, 979 korban kekerasan psikis. Selain itu, ada 346 korban penelantaran, 73 korban tindak pidana perdanganan orang (TPPO), dan 68 korban eksploitasi.

Ilustrasi anak-anak korban pelecehan seksual. Alinea.id/Firgie Setiawan

Sisi A sebagai korban 

Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan kasus A tidak boleh hanya dipandang dari satu sisi kejamnya kejahatan yang dilakukan A. Menurut dia, posisi A sebagai korban juga harus dipertimbangkan hakim sebelum memutuskan vonis. 

"Dia adalah korban, korban kejahatan seksual dari orang yang dia bunuh dan mutilasi. Saya pribadi akan memilih untuk mengedepankan dia sebagai korban karena peristiwa yang menakutkan ini tidak akan terjadi kalau dia tidak pernah menjadi korban," kata Reza saat dihubungi Alinea.id, Kamis (16/12).

Jika diposisikan sebagai korban, menurut Reza, tidak semestinya A  ditetapkan sebagai terdakwa. Jika mengacu pada UU Perlindungan Anak, A sebagai korban kekerasan seksual malahan seharusnya menjadi tanggung jawab negara.  

"Dengan kata lain, alih-alih kita memaki-maki dia, kita kirimkan sumpah serapah ke dia, alih-alih kita seret dia ke bui, justru sebagai korban kita harus realisasikan perlindungan khusus kepada dia," kata Reza. 

Lebih jauh, Reza mengatakan, pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut kejahatan seksual anak sebagai kejahatan luar biasa bisa jadi acuan aparat penegak hukum dalam menangani kasus A. Meski dilematis, ia berharap A diposisikan sebagai korban sehingga hukumannya ringan.

"Konsekuensinya jelas berbeda. Kalau dia kita tetapkan sebagai pelaku pidana, maka ancamanya berat. Terlebih sifat kejahatannya berencana. Maka, ancaman maksimal bisa seumur hidup atau hukuman mati. Namun, karena masih pada usia anak-anak, ancaman hukumannya adalah sepuluh tahun," jelas Reza.

Infografik Alinea.id/Bagus Priyo

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina mengatakan telah menginstruksikan KPAD Bekasi untuk mendampingi A. Sejauh ini, KPAD Bekasi menyimpulkan bahwa A juga merupakan korban dalam kasus tersebut. 

"Mereka (KPAD) juga melihat bagaimana latar belakang keluarga dan sebagainya. Karena ini juga harus melihat faktor pendorong ya. Faktor pendorong anak melakukan kejahatan itu kan macam-macam. Apalagi, laporannya bahwa anak ini pernah menjadi korban," kata Putu saat berbincang dengan Alinea.id, Jumat (18/12).

Lebih jauh, Putu mempersoalkan penyidikan kasus A yang ditangani Unit Resmob Polda Metro Jaya. Padahal, kasus A seharusnya ditangani Unit PPA Polda Metro. Ia khawatir perspektif penyidik Resmob berbeda dengan perspektif dari penyidik PPA dalam menangani kasus A.

Kasus A, kata Putu, tak jauh berbeda dengan kasus pembunuhan yang dilakukan remaja NF. Karena itu, penanganan kasus A juga harus berdasarkan perspektif pemulihan terhadap korban. Faktor-faktor sebab- akibat juga harus dipertimbangkan. 

"Jadi, itu yang harus dilihat dalam konteks sistem peradilan anak dan upaya pemulihan menjadi prioritas dari pemidanaan. Nah, artinya selama proses (penyidikan), apakah ada pemulihan psikologis, itu kan harus diperhatikan juga ya," jelas Putu.
 

Berita Lainnya