sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Imlek, warga Tionghoa padati Wihara Dharma Bhakti

Pengurus wihara, Lucas Tjang, memperkirakan sudah hampir 6.000 warga Tionghoa yang datang untuk beribadah sejak Jumat (24/1) malam.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 25 Jan 2020 12:23 WIB
Imlek, warga Tionghoa padati Wihara Dharma Bhakti
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 121226
Dirawat 38076
Meninggal 5593
Sembuh 77557

Warga Tionghoa membanjiri Wihara Dharma Bhakti di Petak Sembilan, kawasan Glodok, Jakarta Barat, pada Sabtu (25/1). Pengurus wihara, Lucas Tjang, memperkirakan sudah hampir 6.000 umat yang datang untuk beribadah sejak Jumat (24/1) malam.

"Perkiraan saya, dari semalam sampai pagi ini, sudah ada sekitar 5.000 hingga 6.000 umat dari seluruh Indonesia yang datang ke Wihara Dharma Bhakti untuk sembahyang," tutur Lucas pada Sabtu.

Sejak Jumat, para pengurus dan sejumlah sukarelawan datang ke wihara tersebut untuk membersihkan arca, altar, dan ruangan ibadah sebagai persiapan perayaan Tahun Baru Imlek 2571.

"Tentu kita ingin agar umat bisa sembahyang dengan nyaman dan memanjatkan doa puji syukur," tambah dia.

Dia menyebut, pada perayaan Tahun Baru Imlek, umat biasanya akan berdatangan ke wihara hingga pukul 23.00 atau 00.00.

Warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2571 di Wihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Jakarta Barat, Sabtu (25/1). Alinea.id/Valerie Dante

Warga Tionghoa yang memadati Wihara Dharma Bhakti pada Sabtu berbondong-bondong menyalakan hio atau dupa. Menurut Lucas, hio dibakar sebagai tanda bahwa umat datang untuk bersembahyang. Saat memanjatkan doa puji syukur di altar utama, Lucas menjelaskan bahwa setiap umat akan membawa tiga batang dupa kecil.

Kemudian mereka menuangkan minyak ke mangkuk-mangkuk emas sebagai pertanda meminta agar jalan hidup ke depannya lebih terang.

Sponsored

"Lalu kalau bakar kertas emas atau kim cua itu artinya semacam membakar uang. Kertas itu memang biasanya digunakan saat sembahyang kepada dewa-dewa," jelas Lucas.

Selain membakar kim cua, dalam perayaan di Wihara Dharma Bhakti, ada juga ritual pelepasan burung. Lucas menerangkan, itu menandakan bahwa membiarkan mereka hidup lebih baik daripada membinasakan.

Waktu untuk sembahyang sendiri sudah dimulai sejak Jumat tengah malam dan perayaan Tahun Baru Imlek akan berlanjut hingga 21 hari ke depan.

"Tapi memang yang paling padat pada hari pertama dan malam sebelumnya saja, sisanya yang datang sembahyang secara sukarela," ujar dia. "Dari kemarin sore lumayan ramai, tapi kemarin malam dan pagi ini puncaknya karena sangat ramai sekali."

Lucas sendiri mengucap syukur karena telah diberkati dengan hujan sejak Jumat. Dia menambahkan, Tahun Baru Imlek sangat identik dengan hujan.

"Hujan itu pertanda berkah," kata dia.

Untuk mengantisipasi banjir, Lucas mengatakan bahwa pihak wihara memiliki pompa penyedot air. Selain itu, lanjutnya, Wihara Dharma Bhakti sendiri terletak di dataran yang cukup tinggi sehingga meminimalkan potensi banjir.

Dia menambahkan, Wihara Dharma Bhakti merupakan tempat beribadah umat Buddha tertua di DKI Jakarta. Pada 2020, kata dia, wihara tersebut menginjak usia 370 tahun.

Lucas mengapresiasi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berkunjung ke wihara dengan nama lain Kim Tek Le tersebut pada Jumat pukul 23.00. Dia menyebut, kunjungan Anies menandakan pentingnya untuk menjaga kerukunan sesama umat beragama.

"Untuk itu, komunitas Buddha dan Tionghoa berharap pada 2020, Indonesia dapat lebih erat menjalin kerukunan antarumat beragama dan dijauhkan dari bencana," ungkap Lucas.

Tidak hanya dipadati warga Tionghoa yang beribadah, Wihara Dharma Bhakti juga menjadi atraksi turis asing, termasuk kakak-beradik asal Prancis, Alban dan Bruno.

"Ini pertama kalinya saya datang ke wihara ini saat Tahun Baru Imlek. Suasananya sangat menyenangkan, saya melihat orang-orang tersenyum dan berdoa," tutur Alban yang sedang berlibur ke Jakarta.

Tidak seperti adiknya, pada 2019, Bruno sempat mengunjungi Wihara Dharma Bhakti saat perayaan Tahun Baru Imlek.

"Saya selalu suka karena perayaannya sangat meriah, penuh warna-warna terang, dan suasananya sangat hidup," kata dia. "Ini adalah kali kedua saya, sepertinya tahun depan akan ke sini lagi."

Berita Lainnya