close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Petugas kesehatan yang dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) memeriksa suhu salah satu penumpang yang turun di terminal Alang Alang Lebar Palembang, Sumsel, Senin(20/4). Foto Antara/Feny Selly/hp.
icon caption
Petugas kesehatan yang dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) memeriksa suhu salah satu penumpang yang turun di terminal Alang Alang Lebar Palembang, Sumsel, Senin(20/4). Foto Antara/Feny Selly/hp.
Nasional
Rabu, 13 Mei 2020 06:43

Kemenkes setujui PSBB Palembang dan Prabumulih

SK PSBB akan diserahkan ke Pemkot Palembang dan Pemkot Prabumulih.
swipe

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyetujui usulan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Kota Palembang dan Kota Prabumulih. Sejak April 2020, kedua kota di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) itu telah menjadi zona merah transmisi lokal Covid-19.

Penetapan PSBB Palembang, dilakukan melalui Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/MENKES/307/2020. Sementara, penetapan PSBB Prabumulih sesuai Keputusan Menkes RI Nomor HK.01.07/MENKES/306/2020.

Kabag Humas Pemprov Sumsel, Andi Suman mengatakan, SK PSBB dua kota tersebut telah diterima untuk diserahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemkot Prabumulih.

Gubernur Sumsel, Herman Deru, akan menginstruksikan masing-masing wali kota untuk membuat peraturan kepala daerah dan direncanakan segera menyampaikan keterangan resmi. "Untuk lebih lanjutnya, gubernur akan menggelar konferensi pers pada Rabu (13/5) pukul 14.00 WIB," kata Andi Suman.

Data Gugus Tugas Sumsel, mencatat Kota Palembang hingga 12 Mei 2020 telah ditemukan 151 kasus positif Covid-19, dengan kasus sembuh 47 orang dan meninggal dua orang.

Kota berpenduduk 1,6 juta jiwa tersebut, menjadi zona merah dalam 25 hari, atau terhitung sejak kasus pertama muncul 24 Maret hingga dinyatakan zona merah pada 17 April 2020.

Sedangkan Kota Prabumulih, telah ditemukan 13 kasus positif Covid-19, dengan kasus sembuh empat orang dan meninggal satu orang.

Kota Prabumulih, menjadi zona merah dengan rentang waktu paling cepat di Sumsel. Yakni, hanya dalam 12 hari, atau terhitung sejak kasus pertama muncul pada 24 Maret hingga dinyatakan zona merah pada 4 April. (Ant)

img
Achmad Rizki
Reporter
img
Achmad Rizki
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan