close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Personel Badan Keamanan Laut (Bakamla) mengikuti upacara peresmian dan pengukuhan kapal negara (KN) milik Bakamla di depan KN P Nipah di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (18/10). /Antara Foto.
icon caption
Personel Badan Keamanan Laut (Bakamla) mengikuti upacara peresmian dan pengukuhan kapal negara (KN) milik Bakamla di depan KN P Nipah di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (18/10). /Antara Foto.
Nasional
Rabu, 20 November 2019 20:19

Kepala Bakamla sebut ada potensi terorisme di laut Indonesia

Meski belum terlacak, tetapi ia tetap mendorong jajarannya untuk selalu waspada.
swipe

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla), Laksama Madya Achmad Taufiqoerrochman mengatakan, laut Indonesia berpotensi disusupi aktivitas terorisme. Meski belum terlacak, tetapi ia tetap mendorong jajarannya untuk selalu waspada.

Terkait hal itu, Taufiqoerrochman menuturkan, ia sudah membangun kerja sama yang erat dengan beberapa pemangku kepentingan di dalam maupun luar negeri.

"Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Maka harus bekerja sama, berkoordinasi. Karena kejadian di region satu, berdampak ke region lain," ujar Taufiqoerrochman di Gedung Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (20/11).

Ia berharap, semua elemen bisa memperhatikan dan menyadari, serangan teroris bukan hanya ada di darat. Pola-pola terorisme di sektor maritim, kata Taufiqoerrochman, biasanya berwujud praktik penyelundupan senjata. Selain itu, ada juga pola pembajakan kapal dan penculikan.

Ia memberi contoh kasus kapal MV Sinar Kudus, yang dibajak perompak di Somalia pada Maret 2011. Saat itu, TNI turun tangan untuk membebaskan awak yang disandera.

Ketika itu, MV Sinar Kudus yang membawa feronikel tujuan Belanda, dibajak di perairan Somalia, sekitar 350 mil laut tenggara Oman.

"Tidak menutup kemungkinan di sektor maritim kita juga akan muncul kejadian itu," ujar Taufiqoerrochman.

Di samping kasus di Somalia, ia mengatakan, kapal asing berbendera India pun terpantau baru-baru ini akan masuk ke perairan Indonesia. Untungnya, kata dia, kapal itu bisa terdeteksi. Bila tidak, ia khawatir, akan mengganggu keamanan negara.

Hal serupa juga terjadi di perairan Biak, Papua. Ia mengatakan, di sana anggotanya sempat mendeteksi kapal mencurigakan.

"Untungnya tim cepat tanggap. Saya minta cek ke armada di Sorong," ujarnya.

img
Fadli Mubarok
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan