logo alinea.id logo alinea.id

Kisah para penggali lahad jenazah Ani Yudhoyono

Pada mulanya, para penggali makam tidak tahu mereka bekerja membuat lahad untuk jenazah Ani Yudhoyono.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Senin, 03 Jun 2019 02:04 WIB
Kisah para penggali lahad jenazah Ani Yudhoyono

Kelopak bunga putih terjatuh perlahan dari tangkai pohon bunga kamboja, Minggu (2/6) petang itu. Pada batang pohon kamboja di kompleks Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPN) Kalibata, Jakarta Selatan, itu bersandar perkakas untuk memakamkan jenazah ke liang kubur.

Sodikin dan empat petugas penggali makam lainnya di TMPN Kalibata baru saja selesai memakamkan jenazah Kristiani Herrawati Yudhoyono. Dari kejauhan, orang-orang berpakaian nuansa hitam terlihat masih mengerubungi makam perempuan yang dikenal sebagai Ani Yudhoyono itu.

Menjelang malam, makam itu telah bertabur bunga. Tenda merah-putih menaungi makam baru itu, sisa prosesi pemakaman yang sebelumnya dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan puluhan tokoh nasional. 

Sodikin, salah satu orang yang turut menurunkan peti jenazah almarhumah istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono itu ke dalam liang kubur. Irwansyah, rekannya sesama penggali makam, bertugas berjaga di dalam liang, menadah jenazah yang diturunkan.

Sodikin dan enam petugas penggali makam lainnya membuat lubang lahad untuk jenazah Ani Yudhoyono sehari sebelumnya, Sabtu (1/6). Sekitar dua jam setengah mereka habiskan untuk menggali lahad. Pada mulanya, mereka tidak tahu jenazah siapa yang akan dikuburkan di liang baru itu.
 
“Tempatnya di sebelah bawah makam Ibu Ainun (Habibie), bukan di sampingnya. Soalnya kalau yang di samping Ibu Ainun, itu sudah disiapkan untuk Pak Habibie,” ujar Sodikin saat berbincang dengan Alinea.id.

Menurut Sodikin, lokasi makam Ani Yudhoyono ditentukan oleh pihak Garnisun TMPN Kalibata. Dengan suaranya yang agak sengau pria kelahiran Purbalingga, 53 tahun lalu, itu bercerita mengenai keseharian pekerjaannya. "Dari tahun 1983 saya bekerja ini di sini," ucap Sodikin. 

Meski sudah 35 tahun bekerja, ia tak pernah bosan menjalani pekerjaan sebagai penggali liang makam di TMPN Kalibata. Baginya, mengurus pemakaman sudah menjadi rutinitas. Tak peduli siapa pun yang dimakamkan. “Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya,” sambungnya.

Dengan lancar, Sodikin menyebut satu per satu alat yang biasa digunakan dalam proses pemakaman, di antaranya pacul, tali tambang, blencong, susur, pelepak, dan pengki. "Satu liang makam umumnya digali berukuran panjang 2,6 meter, lebar 1 meter, kedalamannya 2,6 meter," tuturnya.

Sponsored

Mereka bertugas setiap hari Senin-Jumat dari pukul 08.00 hingga16.00 WIB. Walaupun tidak ada pekerjaan galian liang, mereka tetap bertanggung jawab melayani kebutuhan para peziarah, seperti menyediakan air untuk menyirami makam.

Ada dua kelompok penggali makam di TMPN Kalibata. Satu tim terdiri atas 9 orang. Dalam sebulan, satu tim dapat mengerjakan setidaknya satu galian makam, tergantung penugasan dari pengelola TMPN Kalibata.

“Bisa juga seminggu satu makam baru. Kita mengerjakannya paling lambat pagi hari sebelum jenazah dimakamkan waktu siang harinya,” katanya. 

Sodikin, 53 tahun, salah satu penggali lahad di TMPN Kalibata. Alinea.id/Robertus Rony Setiawan

Terkenang kebijakan SBY

Berbeda dengan Sodikin, Irwansah punya kesan khusus saat 'menggarap' lahad bagi Ani Yudhoyono. Lelaki yang menjadi penggali makam sejak 2005 itu mengaku terkenang kebijakan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjabat Presiden RI.

Saat berkuasa, menurut dia, SBY pernah mengeluarkan kebijakan mengangkat pegawai honorer menjadi pegawai negeri tetap. Perubahan status itu membuat Irwansyah memperoleh gaji dan tunjangan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. 

Pegawai gali makam golongan II seperti Irwansyah diberikan upah pokok Rp2,5 juta per bulan, sedangkan pekerja yang lebih senior seperti Sodikin mendapatkan gaji Rp3,2 juta. “Secara enggak langsung saya merasa berterima kasih kepada Pak SBY dan juga Bu Ani," ujar dia.

Irwansyah merasa pekerjaan sebagai penggali makam membuka jalan berkah. Lelaki berusia 40 tahun ini kerap merasa dimudahkan ketika mengalami kesulitan ekonomi rumah tangga. “Rezekinya ada aja gitu. Enggak tahu dari mana (dan) enggak disangka-sangka,” ucapnya. 

Tak hanya dari segi ekonomi saja, Irwansyah mengatakan, pekerjaannya sebagai penggali lahad juga membuatnya semakin wawas diri. “Kalau ada acara pemakaman, selalu saya yang di bawah (dalam liang). Itu bikin saya selalu ingat bahwa saya juga akan seperti ini (meninggal),” kata Irwansyah. 

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Senin, 24 Jun 2019 22:15 WIB
Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Jumat, 21 Jun 2019 20:21 WIB