logo alinea.id logo alinea.id

KPAI: Siswa SMP yang merisak guru merasa malu dan tertekan

Para siswa menyesali perbuatannya, menangis dan meminta maaf."

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 27 Mar 2019 22:06 WIB
KPAI: Siswa SMP yang merisak guru merasa malu dan tertekan

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan, para siswa SMP Maha Prajna yang melakukan bullying atau perisakan terhadap gurunya telah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Mereka juga merasa malu dan khawatir mendapat stigma, atas perbuatan yang videonya sempat viral di media sosial.

Menurut Retno, hal ini terjadi dalam rapat kasus pada Senin (25/3), yang menghadirkan para siswa dan orangtuanya, para guru, dan kepala sekolah. Rapat juga dihadiri pengawas sekolah dan Kepala Satuan Pelaksana Pendidikan Kecamatan Cilincing.

"Pada rapat tersebut para siswa menyesali perbuatannya, menangis dan meminta maaf. Anak-anak tersebut tertekan dan merasa malu, serta khawatir ada stigma negatif terhadap mereka," kata Retno di Jakarta, Rabu (27/3).

Retno mengatakan, sejumlah siswa yang terlibat tidak diberikan hukuman karena telah menyesali dan berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut. Pertimbangan lain adalah status mereka sebagai siswa kelas IX yang akan mengikuti ujian nasional pada April 2019 mendatang.

Selain itu, para siswa yang terlibat berserta orangtuanya, juga sempat diundang untuk memenuhi pertemuan dengan Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara Wilayah II di kantor Wali Kota Jakarta Utara. Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan.

"Mereka diundang untuk menjalani pembinaan, sekaligus klarifikasi video yang sempat viral tersebut," ujar Retno.

Menurutnya, Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara Wilayah II mendukung keputusan sekolah untuk tetap memenuhi hak pendidikan para siswa pelaku dan tidak memberikan sanksi fisik, sanksi skorsing, maupun mencabut Kartu Jakarta Pintar (KJP). Retno mengatakan, KPAI pun mengapresiasi sikap tersebut.

Sebagai bentuk pembinaan terhadap para pelaku, sekolah bekerja sama dengan orang tua untuk memberikan pengasuhan positif terhadap anak-anak tersebut.

Sponsored

Adapun pihak sekolah, mendapatkan sanksi teguran dari pihak Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara Wilayah II. Pihak sekolah dituntut untuk melakukan tata kelola sekolah yang lebih baik dan profesional. 

"Pihak sekolah cukup kooperatif dalam menuntaskan masalah ini," kata Retno.

Dalam pertemuan di kantor Wali Kota Jakarta Utara, terungkap bahwa guru yang menjadi korban dalam perisakan tersebut baru mengajar sekitar 7 bulan. Ia merupakan guru honorer dengan gaji sekitar Rp600 ribu per bulan. 

Menurut Retno, pihak yayasan memiliki keterbatasan dana dalam menggaji para gurunya. Ini dikarenakan siswa di sekolah tersebut kurang dari 100 orang. Pihak yayasan juga masih kesulitan meski mendapat dukungan dana melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dana hibah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Kronologi

Aksi perisakan yang videonya viral, terjadi pada Jumat (22/3) sekitar pukul 09.30 WIB. Peristiwa itu terjadi saat pergantian jam pelajaran olahraga ke Pendidikan Lingkungan dan Kebudayaan Jakarta (PLKJ).

Siswa yang bertelanjang dada dalam video tersebut, akan mengganti baju setelah berkeringat mengikuti pelajaran olahraga. Kaos olahraga yang sudah basah keringat, akan diganti dengan seragam pramuka.

"Kebetulan belum sempat ganti, tapi ternyata guru jam berikutnya sudah masuk ke kelas. Saat itu situasi tidak kondusif, dan guru tersebut sudah berusaha menenangkan kelas, namun gagal," ujar Retno menuturkan.

Dia juga membenarkan sejumlah siswa berjoget sambil mengelilingi sang guru. Namun ia memastikan tidak terjadi penganiayaan terhadap guru tersebut.

"Anak-anak hanya berjoget, bernyanyi, dan bercanda sambil mengelilingi gurunya," kata Retno.

Adapun video kejadian itu, direkam oleh seorang siswi yang juga berada di dalam kelas, tanpa diketahui teman-temannya. Kemudian, video tersebut diunggah ke aplikasi pesan instan WhatsApp.

"Video tersebut diupload ke aplikasi WhatsApp grup sekedar untuk lucu-lucuan. Namun, dari WA grup tersebut, anggotanya ada yang men-share keluar grup dan dalam waktu singkat langsung viral, sampai kemudian diketahui pihak sekolah," tutur Retno.