sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kriteria calon Wali Kota Surabaya pengganti Risma

Wali Kota Tri Rismaharini tak akan maju lagi dalam Pilkada Surabaya yang bakal digelar pada 2020.

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Kamis, 04 Jul 2019 23:52 WIB
Kriteria calon Wali Kota Surabaya pengganti Risma

Wali Kota Tri Rismaharini tak akan maju lagi dalam Pilkada Surabaya yang bakal digelar pada 2020.

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur membeberkan kriteria calon Wali Kota Surabaya yang akan diusungnya pada Pilkada 2020. Kriteria tersebut akan dijadikan rujukan sebelum mengeluarkan rekomendasi.

Ketua DPW PKB Jatim, Abdul Halim Iskandar mengatakan, partainya menginginkan cawali merupakan orang asli Surabaya. Mengingat, selama ini warga asli Surabaya termarjinalkan.

Menurut dia, hal ini terlihat dengan terpinggirkannya warga Rungkut. Mengingat kawasan Rungkut banyak berdiri perumahan elite, sehingga warga asli justru pindah ke daerah pinggiran.

"Kita berkaca saja Rungkut. Sepuluh tahun, 15 tahun, 20 tahun lalu, bandingkan dengan hari ini. Kita bisa melihat situasi Rungkut 15 tahun lalu dengan hari ini, mereka yang asli Rungkut kemana," ungkap Halim, di Surabaya, Kamis (4/7).

Selain itu, calon yang akan bertarung nanti harus mampu melindungi warganya yang asli, jika terpilih. Mengingat warga asli adalah pemilik sejarah Kota Surabaya. Dia tidak ingin Surabaya seperti Jakarta. 

"Kita lihat Jakarta sekarang, orang Betawi posisinya di mana? Di pojok-pojok kan? Kita lihat ada di pinggir Tanah Abang," tuturnya. 

Kakak kandung Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar itu menilai Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini selama dua periode memimpin belum maksimal menyentuh masyarakat pinggiran. 

Sponsored

Pembangunan infrastruktur jalan di Surabaya yang dinilai mampu mengatasi kemacetan, seperti frontage road sepanjang Jalan A Yani, tidak realitis dengan keadaan sekarang.

"Itu poduk lama yang muncul hari ini, bukan produk baru," ujarnya.

Halim menegaskan memang pembangunan jalan yang dapat mengurai kemacetan. Seperti underpass di Jalan Mayjen Sungkono-HR Muhammad. Hanya saja underpass ini memudahkan warga yang tinggal di kawasan elite, sehingga kemacetan berkurang. 

"Akses ke sana (kawasan elit) memang mudah. Kalau akses mudah, maka naiklah nilai lahan aset di situ," kata Halim.

Dia berharap pengganti Risma lima tahun ke depan adalah yang memiliki visi pembangunan yang dapat memanusiakan warganya, terutama warga asli Surabaya.

"Yang penting visinya. PKB tidak melihat orangnya," pungkasnya.