sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

MUI nilai pembentukan DKN perlu dilanjutkan

DKN bisa bertugas untuk mencari solusi atas perbedaan pendapat dan pandangan terkait kebangsaan.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Jumat, 04 Des 2020 19:17 WIB
MUI nilai pembentukan DKN perlu dilanjutkan

Pembentukan Dewan Kerukunan Nasional (DKN) perlu dilakukan untuk menjawab persoalan dan membantu pemerintah dalam memberi masukan terkait berbagai perbedaan yang ada.

"Menurut saya, gagasan Presiden Jokowi untuk membentuk satu dewan dengan nama DKN yang sudah pernah beliau gagas dalam periode lalu untuk dilanjutkan dan diaktifkan kembali," kata Wakil ketua Umum MUI Anwar Abbas, dalam keterangannya, Jumat (4/12).

Anwar memandang, DKN dapat bertugas untuk mencari solusi atas perbedaan pendapat dan pandangan terkait kebangsaan yang ada. Hasil solusi itu, kata dia, dapat menjadi pertimbangan dalam menyelesaikan persoalan perbedaan terkait kebangsaan tersebut.

"Sehingga dengan demikian, negeri ini tidak lagi sering terganggu oleh kegaduhan dan kerusuhan seperti yang ada sekarang. Jadi, kami harapkan persoalan yang dihadapi bangsa akan dapat kita atasi secara bersama-sama," tutur dia.

Atas dasar itu, persoalan bangsa yag kompleks seperti Covid-19 dan penanggulangan ekonomi dapat dihadapi. "Saat ini, akan bisa kita atasi karena semua pihak sudah sama visi dan pandangannya dalam  memajukan negeri yang sama-sama kita cintai ini," tuturnya.

Lebih lanjut, Anwar menambahkan, perbedaan pendapat kebangsaan dapat diatasi bila warga dapat menghormati pendapat yang ada. Dia pun menyinggung, salah satu topik Ketua MUI Miftahul Akhyar saat memberikan sambutan dalam acara penutupan MUNAS MUI.

"Sangat menarik untuk kita perhatikan di mana beliau mengatakan, supaya diantara kita ada persatuan dan kesatuan maka di dalam berdakwah dan atau bermusyawarah kita harus menjunjung tinggi prinsip saling hormat menghormati dan harga menghargai," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, sikap dan cara  yang harus dikembangkan dalam menghormati yakni mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, membela bukan mencela, dan encari solusi bukan mencari simpati.

Sponsored

"Bila hal-hal seperti itu bisa kita tegakkan dalam permusyawaratan dan pertemuan yang kita lakukan, maka Insyaallah musyawarah dan dialog itu akan bisa berjalan dengan baik karena masing-masing pihak merasa dihormati dan dihargai," bebernya.

"Sehingga, pertemuan itu diharapkan akan dapat membawa hasil yang baik bagi masyarakat, bangsa dan negara," tambahnya.

Berita Lainnya