close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto Antara.
icon caption
Ilustrasi. Foto Antara.
Nasional
Jumat, 17 Februari 2023 14:53

BI: Pembiayaan korporasi awal tahun melambat dibanding Desember 2022

Perlambatan SBT Januari 2023 ini diketahui karena korporasi mayoritas memenuhi kebutuhan pembiayaannya bersumber dari dana sendiri.
swipe

Survei Bank Indonesia (BI) menyimpulkan, permintaan pembiayaan korporasi pada Januari 2023 terindikasi mengalami pertumbuhan positif. Ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pembiayaan korporasi sebesar 12,1%.

“Mayoritas pembiayaan terutama bersumber dari dana sendiri, diikuti oleh pemanfaatan fasilitas kelonggaran tarik, pinjaman atau utang dari perusahaan induk, dan penambahan kredit baru ke perbankan dalam negeri,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resminya, Jumat (17/2).

Meski masih tumbuh positif, SBT pembiayaan koperasi Januari 2023 tercatat melambat dari SBT Desember 2022 yang sebesar 21,5%. Pertumbuhan disebutkan karena ditopang sektor Infokom. Sedangkan perlambatan terjadi karena didorong oleh sektor pertanian dan perdagangan, sementara sektor reparasi mobil dan motor mengalami penurunan.

Perlambatan SBT Januari 2023 ini diketahui karena korporasi mayoritas memenuhi kebutuhan pembiayaannya bersumber dari dana sendiri yang mencapai 64,0%. Jumlah ini lebih tinggi dari Desember 2022 sebesar 58,9%.

Sejalan dengan meningkatkan pemenuhan kebutuhan pembiayaan dari dana sendiri, ini menjadikan sumber pembiayaan yang berasal dari pemanfaatan fasilitas kelonggaran tarik, pinjaman atau utang dari perusahaan induk, dan penambahan kartu kredit baru dari perbankan terindikasi melambat dibandingkan bulan lalu, yaitu masing-masing adalah 9,0%, 7,2%, dan 6,3%.

BI memperkirakan, kebutuhan terhadap pembiayaan korporasi di tiga bulan mendatang atau April 2023, akan terakselerasi dibandingkan posisi sebelumnya. Ini terindikasi dari SBT 31,4% yang meningkat dibandingkan SBT 18,8% pada bulan lalu.

“Peningkatan kebutuhan pembiayaan terutama disampaikan oleh responden sektor Industri Pengolahan, Konstruksi, dan Pertanian untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan (84,2%) dn membayar kewajiban jatuh tempo yang tidak bisa di-rollover (22,8%), serta mendukung pemulihan permintaan domestik (22,8%) dan investasi (20,3%),” ujar Erwin.

Korporasi yang menjadi responden juga meyakini, pemenuhan kebutuhan dana tiga bulan mendatang, mayoritas akan masih dipenuhi dari dana sendiri atau laba ditahan.

 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan