logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat minta polisi tingkatkan pengamanan pejabat publik

BIN dinilai sekedar menyampaikan informasi kepada Polri untuk meningkatkan kewaspadaan di lapangan.

Khaerul Anwar Marselinus Gual
Khaerul Anwar | Marselinus Gual Jumat, 11 Okt 2019 13:26 WIB
Pengamat minta polisi tingkatkan pengamanan pejabat publik

Polisi diminta meningkatkan pengamanan terhadap pejabat publik, menyusul insiden penusukan yang menimpa Menkopolhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

Pengamat teroris dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, mengatakan, penusukan yang dialami Wiranto seharusnya tidak terjadi. Apalagi salah satu tujuan revisi Undang-Undang Antiterorisme tahun lalu adalah, mengatasi keluhan aparat yang mengaku kesulitan melakukan penindakan sebelum ada aksi.

"Lah, kalau sudah dipantau tetapi tidak segera diambil tindakan atau yang mereka sebut sebagai 'preventive strike', terus buat apa diceritakan? Pak Wiranto sudah tertusuk," ujar Khairul saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Jumat (11/10).

Selain itu, Khairul tidak sependapat jika aksi Syahril Alamsyah alias Abu Rara, mengindikasikan pergerakan teroris yang semakin berani. Dia menyebutkan, sejak serangan Paris pada 2015 yang menewaskan 125 orang, sasaran teror cenderung menjadi acak, sporadis dan simultan.

"Teror dilakukan dalam intensitas rendah (low intensity), namun memiliki kemampuan menyampaikan pesan secara kuat dengan memanfaatkan momentum," kata dia.

Selain melakukan serangan secara acak, serangan pelaku teror juga berkaitan dengan berbagai isu di kawasan setempat.

"Peran sejumlah aktor lokal, atau setidaknya dekat dengan berbagai isu setempat sangat kuat. Dia tak harus orang yang secara hirarkis terhubung, bahkan bisa saja kelompok simpatisan, kelompok terinspirasi atau cuma sekadar penggemar. Di tengah situasi dan dinamika politik seperti sekarang, pelaku bisa datang dari banyak kemungkinan motif," jelasnya.

Itulah sebabnya menyematkan cap radikal kepada Abu Rara dinilainya tidak tepat. Aksi Abu Rara yang tergolong ekstrim tersebut, bisa saja berkaitan dengan personal ketimbang isu teror yang spesifik.

Sponsored

Apalagi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah jauh-jauh hari menyampaikan mantan Ketua Umum Partai Hanura itu menjadi target pembunuhan. Selain Wiranto, Kapolri juga menyebut nama Luhut, Budi Gunawan, dan Gories Mere menjadi target dari aksi yang sama.

"Dari peran Wiranto dan berbagai pernyataannya belakangan ini, tentu dapat dipahami mengapa Wiranto menjadi target potensial," katanya.

Mengenai anggapan Badan Inteligen Negara (BIN) kecolongan dalam insiden yang menimpa Wiranto, Khairul menegaskan tugas BIN tidak sampai dipenindakan. BIN sekedar menyampaikan informasi kepada Polri untuk meningkatkan kewaspadaan di lapangan. Misalnya, menginformasikan lebih dini terdapat sel kelompok teror yang sedang dipantau dan disinyalir sedang aktif, dengan penanda tertentu.

"BIN juga bisa merekomendasikan agar pengamanan ring satu diperketat, dengan personel yang lebih selektif dan mumpuni sebagai antisipasi serangan di area publik. Jika sudah dilakukan, BIN benar. Bukan mereka yang kecolongan," kata Khairul.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi mengaku, Polda Banten telah menerjunkan 200 personel gabungan TNI-Polri dalam pengamanan kunjungan mantan Panglima TNI tersebut.

Menurut Edy, pihaknya telah melakukan pengamanan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Mulai dari persiapan pengamanan dan melakukan rapat koordinasi dengan penyelenggara acara, pengamanan dan sterilisasi kampus dan jalan dari kampus ke alun-alun dengan menerjunkan pasukan Penjinak Bom (Jibom) Polri dan dibantu personel TNI.

Insiden penusukan terjadi saat Wiranto hendak pulang usai menghadir acara di Universitas Mathla'ul Anwar (Unma). Saat sedang menyalami warga, tiba-tiba saja Wiranto diserang dan ditusuk Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31) bersama istrinya Fitri Andriani (21) di Lapangan Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

"Kekuatan personel sudah kami hitung. Mulai dari lokasi tempat gedung peresmian, di perjalanan sampai dengan lokasi, hampir 200 orang dan ajudan beliau juga ada yang melekat," kata Edi di Mapolda Banten, Jumat (11/10).

Upaya Wiranto berinteraksi dengan masyarakat merupakan kepribadian dirinya, sehingga polisi memberikan ruang untuk berkomunikasi dan melakukan swafoto dengan masyarakat.