close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Sejumlah anggota TNI memanggul jenazah korban penembakan anggota TNI Letkol CPM Dono Kuspriyanto saat akan dimakamkan di Pemakaman Pahlawan Dreded Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12/2018). Letkol CPM Dono Kuspriyanto tewas dalam insiden penembakan di Jatinega
icon caption
Sejumlah anggota TNI memanggul jenazah korban penembakan anggota TNI Letkol CPM Dono Kuspriyanto saat akan dimakamkan di Pemakaman Pahlawan Dreded Bogor, Jawa Barat, Rabu (26/12/2018). Letkol CPM Dono Kuspriyanto tewas dalam insiden penembakan di Jatinega
Nasional
Kamis, 27 Desember 2018 05:00

Pesan Letkol Dono sebelum tewas, puisi Yenny Wahid jadi isyarat

Letkol Dono Kuspriyanto merupakan sosok baik yang senang bernyanyi dan dekat dengan semua teman
swipe

Sebelum tewas tertembak, Letkol CPM Dono Kuspriyanto ternyata sempat mengirimkan pesan obrolan di grup alumni SMA berisikan pesan-pesan Islami dan muhasabah atau introspeksi diri. Kisah yang dibagikan Letkol Dono merupakan sebuah video tentang Chica Koeswoyo.

Hal itu diungkapkan Budi Hendra Jaya (56), teman sekolah korban yang ikut menghadiri pemakamanmnya di Taman Bahagia Dreded, Bondongan, Kota Bogor. Budi ketika itu memperlihatkan sebuah video dan isi pesan yang dikirim Letkol Dono 2 jam sebelum ditemukan tewas.

"Saya tidak menyangka kejadian ini. Kaget juga karena pukul 21.00 WIB dia masih mengirimkan pesan di grup WhatsApp berisi pesan-pesan bagus," kata Budi.

Budi menceritakan kiriman video dan pesan yang dibagikan Letkol Dono merupakan berisi cerita kisah nyata tentang Chicha Koeswoyo yang memilih memeluk agama Islam. Kisah yang dikirimkan oleh Letko Dono berjudul "Mamaku perempuan luar biasa #1". Bercerita tentang pengalaman pribadi dari anak penyanyi legendaris Nomo Koeswoyo yang menemukan jalan imannya.

Video yang dikirimkan Letkol Dono berdurasi 2 menit itu menayangkan seorang Yenny Wahid dalam program Pray for Indonesia yang berjudul "Ampuni Kami, Tuhan". 

"Membunuh satu manusia tak berdosa sama dengan membunuh seluruh umat manusia,” kata  Yeni Wahid membacakan syair Kitab Suciku di menit pertama dalam video tersebut.

Budi pun ketika dikonfirmasi, mengatakan tidak tahu motif Letkol Dono mengirimkan video tersebut. Menurutnya, bait pertama puisi yang dibacakan Yenny Wahid seolah memberi pesan atas dengan kejadian Letkol Dono.

Budi dan Letkol Dono merupakan teman satu sekolah di SMA Negeri Ciawi angkatan 1981. Mereka tergabung dalam grup alumni SMAN Ciawi. Selama mengenalnya, korban merupakan sosok yang baik, senang bernyanyi, dan dekat dengan semua teman alumni SMAN Ciawi. Saat berkumpul, kata Budi, korban jarang mencaritakan tentang pekerjaan.

Seperti diketahui, Letkol Dono tewas setelah ditembak oleh anggota TNI Angkatan Udara pada Selasa (25/12) malam. Letkol Dono dinyatakan tewas pada pukul 23.25 WIB sebagaimana yang dibacakan pada saat upacara pemakaman.

Korban wafat dalam usia 56 tahun. Semasa hidupnya korban menjabat sebagai Kepala Bagian Penyelidikan Kriminal dan Pengamanan Fisik, Pusat Polisi Militer TNI AD, jabatan golongan V.

Adapun pemakaman Letkol CPM Dono Kuspriyanto selain dimakamkan dengan upacara militer melibatkan satu satuan setingkat kompi (SSK) anggota TNI, pengantar jenazah mencapai 20 unit kendaraan mengiringi ambulans menuju Taman Bahagia Dreded, Bondongan, Kota Bogor, Rabu.

Selain itu, selama diperjalanan, mendapat pengawalan dari anggota TNI dan Polri hingga Dinas Perhubungan yang membantu kelancaran perjalan iring-iringan mobil jenazah dari Semplak menuju Bondongan. (Ant)

img
Tito Dirhantoro
Reporter
img
Tito Dirhantoro
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan