sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Polri angkat tangan usut ujaran rasial di asrama mahasiswa Papua

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan Polri tak berwenang mengusut hal tersebut.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 20 Agst 2019 15:08 WIB
Polri angkat tangan usut ujaran rasial di asrama mahasiswa Papua
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 377.541
Dirawat 63.576
Meninggal 12.959
Sembuh 301.006

Kepolisian Negara Republik Indonesia angkat tangan dalam mengusut ujaran rasial saat pengamanan mahasiswa Papua di Surabaya. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan, pihaknya justru mengejar penyebar rekaman video berisi ujaran rasial tersebut, karena dianggap memprovokasi sehingga menyulut kericuhan di Manokwari dan sekitarnya. 

Ujaran rasial yang dimaksud adalah penggunaan kata "monyet" yang ditujukan pada mahasiswa Papua guna meminta mereka keluar dari asramanya di Surabaya. Dalam video berdurasi 45 detik yang tersebar di media sosial,  terdengar dua orang berbeda meneriakkan kata "monyet". Seorang di antaranya mengenakan seragam tentara. 

Menurut Dedi, Polri tak berwenang mengusut hal tersebut. Polri berfokus pada upaya meredam dan menjaga situasi keamanan di Papua dan Papua Barat. 

“Itu bukan Polri yang nanggapi hal itu. Sipil sudah ditangani dengan baik,” ujar Dedi di Humas Polri, Jakarta, Selasa (20/8).

Menurut Dedi, saat ini kondisi di Jawa Timur sudah kondusif. Para mahasiswa Papua dan masyarakat sekitar sudah kembali beraktivitas seperti biasa. 

Dedi juga menegaskan, sekelompok orang yang mendatangi asrama dan menyampaikan kemarahannya pada mahasiswa Papua, tidak merepresentasikan masyarakat Jawa Timur. Karena itu, peristiwa tersebut bukan gesekan antar etnis atau kelompok masyarakat.

“Itu bukan representasi masyarakat Jatim, itu spontan personal saja,” ucap Dedi.

Menurutnya, permintaan maaf Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa atas peristiwa yang terjadi di Surabaya dan Malang pada 16-17 Agustus 2019, telah menunjukkan iktikad baik yang mewakili masyarakat Surabaya. Apalagi Khofifah juga menjamin keamanan masyarakat Papua yang berada di wilayahnya.

Sponsored

"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas nama masyarakat Jatim, sekali lagi (kejadian tersebut) itu tidak mewakili masyarakat Jatim," ujar Khofifah di Surabaya, Senin (19/8).

Peristiwa tersebut menimbulkan kericuhan di sejumlah lokasi di Papua. Aksi massa terjadi di Jayapura, Sorong dan Monokwari. Masyarakat dan Gubernur Papua menganggap ada diskriminasi dalam peristiwa itu. 

Berita Lainnya