sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Selesaikan konflik Papua, pemerintah perlu mencontoh Gus Dur

Masyarakat perkotaan seharusnya belajar memahami perbedaan-perbedaan yang ada.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Kamis, 29 Agst 2019 16:32 WIB
Selesaikan konflik Papua, pemerintah perlu mencontoh Gus Dur

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemnetrian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, mengatakan pemerintah perlu mencontoh mantan Presiden Abudarrahman Wahid atau Gus Dur dalam menyelesasikan konflik di Papua. 

“Jangan sungkan untuk meneladani cara-cara yang ditempuh oleh Gus Dur dalam menangani masalah yang terjadi di Papua,” kata Hilmar di Jakarta pada Kamis, (29/8).

Menurut Hilmar, langkah yang diambil Gus Dur bisa dikatakan sukses untuk memadamkan bara konflik di Papua. Gus Dur disebutnya mempunyai kualitas dan kemampuan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat Papua. 

“Saya kira Gus Dur waktu itu di masanya ketika jadi presiden, punya kualitas kemampuan mendengarkan dan kesabaran menampung aspirasi masyarakat Papua. Ini patut kita tiru dari beliau (yang) punya kesabaran dan kemampuan mendengarkan. Juga toleransinya terhadap perbedaan yang ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hilmar mengimbau kepada masyarakat Indonesia untuk menghormati dan menghargai segala perbedaan yang ada pada seluruh masyarakat. Menurutnya, perbedaan inilah yang sebetulnya merupakan kekayaan bagi kebudayaan di Indonesia.

“Karena susah kita membayangkan tunggal ika kalau tidak ada kebhinnekaanya. Dan sebaliknya juga kebhinnekaan saja tanpa tunggal ika tidak akan ke mana-mana,” ujar Hilmar.

Selain mencontoh Gus Dur, kata Hilmar, pihaknya sepakat apabila penyelesaian konflik di Papua menggunakan pendekatan kebudayaan. Namun demikian, pendekatan tersebut tak serta merta bisa langsung diterapkan saat ini. 

"Jadi ditawarkan usulan pakai jalan kebudayaan untuk menangani masalah Papua, saya kira tepat sekali. Tapi memang itu perlu waktu. Dalam situasi sekarang menurut saya, ketenangan (dan) stabilitas yang sangat diperlukan agar orang bisa lebih tenang dulu," ucap Hilmar. 

Sponsored

Menurutnya, sejumlah masyarakat di daerah termasuk Papua yang merasa termarjinalkan butuh pengakuan seutuhnya dari seluruh masyarakat Indonesia. Hal tersebut menjadi penting karena tidak sedikit masyarakat di perkotaan yang memandang miring masyarakat dari daerah lain atau di luar perkotaan. Menurutnya, pandangan miring tersebut merupakan cara yang salah. 

“Sebaiknya orang-orang yang tinggal diperkotaan seharusnya belajar untuk memahami perbedaan-perbedaan yang ada,” kata Hilmar.