sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Siasat Menteri Agama cari alasan duit dugaan suap di laci

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin diduga meminta cari alasan keberadaan uang suap di dalam lacinya.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Rabu, 03 Jul 2019 23:50 WIB
Siasat Menteri Agama cari alasan duit dugaan suap di laci

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin diduga meminta cari alasan keberadaan uang suap di dalam lacinya.

Lukman Hakim didiga menyusun konstruksi alasan ihwal temuan sejumlah uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat yang disita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat penggeladahan terkait kasus suap pengisian jabatan Kementerian Agama (Kemenag) Wilayah Jawa Timur.

Hal itu diungkap Jenedjri M. Gaffar selaku Staf Ahli Menag Bidang Hukum dan HAM, dalam sidang lanjutan kasus suap pengisian jabatan Kemenag Jawa Timur dengan terdakwa Muafaq Wirahadi dan Haris Hasanuddin di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

"Kami membantu Pak Menteri melakukan kontruksi perkara terkait uang yang ada di laci meja beliau," kata Jenedjri, dalam kesaksiannya, Rabu (3/7).

Diketahui, KPK melakukan menggeledah ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 18 Maret 2019. Saat itu, KPK menemukan uang dalam pecahan rupiah dan mata uang asing di laci kerja Lukman. Uang yang ditemukan KPK saat penggeledahan di ruang Menteri Agama tersebut mencapai Rp180 juta dan US$30.000.

Jenedjri menjelaskan, uang pecahan rupiah yang disita KPK itu berasal dari uang Dana Operasional Menteri (DOM), penghasilan sebagai narasumber, serta sisa  dana perjalanan dinas. Hal itu diketahuinya berdasarkan keterangan Menag Lukman.

"Kami membantu pak menteri untuk membuat konstruksi perkara dengan uang di laci meja kerja beliau antara lain, ini berasal dari honorarium kemudian kami minta buktinya. Nah, di situ kami simpulkan satu demi satu alat bukti demikian pula dengan DOP menteri, termasuk uang honorarium dari narasumber," katanya.

Sementara uang sebesar US$30.000, kata Jenedjri, berasal dari mantan Kepala Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi, Syekh Ibrahim Sulaiman al-Nughomsy dan Kepala Atase Agama Kedubes Arab Saudi, Syekh Saad Bin Husein An Namasi.

Sponsored

Lantas, majelis hakim menanyakan temuan uang pecahan dollar itu apakah dibuatkan kontruksi alasan. Jenedjri mengaku tidak membuatnya. Pasalnya, Menag Lukman tidak mengingat secara persis pemberian ihwal uang tersebut.

"Tidak (dibuatkan kontruksi perkara)," kata Jenedjri.

Dalam persidangan sebelumnya, Menag Lukman juga mengaku telah menerima uang US$30.000 dari keluarga raja Arab Saudi Amirru Sulton. Pemberian itu terkait dengan penyelenggaran Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) internasional.

Untuk diketahui, Haris Hasanuddin didakwa menyuap Romahurmuziy dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin senilai Rp325 juta. Hal ini disampaikan dalam pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Tipikor, Rabu (29/5).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Wawan Yunarwanto mengatakan, Lukman Hakim menerima Rp70 juta dalam dua tahap. Adapun Rommy menerima Rp255 juta.

Selain itu, Muhamad Muafaq Wirahadi didakwa menyuap Rommy sebesar Rp91,4 juta. Suap dilakukan keduanya untuk memuluskan proses pengisian jabatan di Kementerian Agama.

Atas perbuatannya, Haris dan Muafaq didakwa melanggar pasal 5 ayat (1) huruf b atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Berita Lainnya