sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Waspadai hujan lebat usai super blue blood moon

Hal ini disebabkan posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Akibatnya, suhu udara di selatan lebih tinggi dibandingkan utara.

Syamsul Anwar Kh
Syamsul Anwar Kh Selasa, 30 Jan 2018 12:02 WIB
Waspadai hujan lebat usai super blue blood moon
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Fenomena langka diprediksi bakal menutup Januari 2019. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Rabu 31 Januari, besok akan terjadi Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total. Pada peristiwa itu, matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. Momen ini terjadi lebih dari 100 tahun sekali di Amerika dan 36 tahun sekali di Indonesia

Meski demikian, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat untuk mewaspadai tinggi pasang maksimun hingga mencapai 1,5 meter. Hal tersebut karena adanya gravitasi bulan dengan matahari.

“Fenomena ini pun juga mengakibatkan surut minimum mencapai -100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di pesisir, Sumatera Utara, Barat, Sumatera Barat, selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat,” terang Dwikorita, Selasa (30/1).

Tak hanya itu, Dwikorita menyebut tinggi pasang maksimum ini akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir. Aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di Pelabuhan dianggap juga bakal terkena dampak dari fenomena Supermoon.

Sedangkan berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan melanda Indonesia hingga 3 Februari mendatang. Hal ini disebabkan posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Akibatnya, suhu udara di belahan bumi selatan lebih tinggi dibandingkan belahan bumi utara.

“Kondisi ini mengakibatkan adanya tekanan rendah di belahan bumi selatan sehingga terjadi aliran udara dingin dari belahan bumi utara tepatnya dari daratan Asia, termasuk Samudera Pasifik di sekitar Filipina atau bagian utara barat pasifik serta aliran udara dingin dari arah Samudera Hindia,” terang Dwikorita.

Selanjutnya, aliran udara tersebut semuanya menuju ke belahan bumi selatan tepatnya ke arah Australia. Alhasil, sejumlah wilayah Indonesia di bagian barat dan selatan terlewati aliran udara dingin Samudera Hindia dan Filipina.

Kondisi inilah yang memicu terjadinya potensi hujan dan angin dengan kecepatan tinggi, terutama di Aceh, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi selatan, Papua Barat, dan Papua.

Sponsored

“Waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor. Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang atau roboh,” tandasnya.

Berita Lainnya