close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Akram Afif gembira dengan cetakan dua golnya ke Lebanon. Foto AFC
icon caption
Akram Afif gembira dengan cetakan dua golnya ke Lebanon. Foto AFC
Olahraga
Minggu, 14 Januari 2024 07:29

Nama besar Qatar tinggal kenangan Indonesia

Pelatih kepala Marquez Lopez mengaku senang Qatar membuka kampanye mereka dengan kemenangan.
swipe

Akram Afif dinobatkan sebagai pemain terbaik pada laga pembuka Piala Asia 2023. Dua gol dari kakinya membantu tuan rumah Qatar menggilas Lebanon 3-0 di Lusail Stadium, Doha, Sabtu (13/1) dini hari WIB.

Afif menjadi bukti bahwa buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya. Keturunan Arab Yaman, dia lahir di Doha, Qatar, dari seorang ibu rumah tangga asal suku Yafa'a dari Yaman. Ayah Afif kelahiran Tanzania dan kemudian pindah ke Somalia. Ayahnya, Hassan Afif, mantan pemain terkenal di klub Horseed FC di Somalia dan tim nasional Somalia, sebelum pindah ke Qatar dan bermain untuk Al Ittihad.

"Pohon" Hassan menghasilkan "buah" Akram yang manis. Ia membuat jatuh cinta 80.000 fans tim berjuluk Maroon.

Duet sehatinya, striker Almoez Ali, berasal dari sesama imigran. Ali sendiri dari Sudan. Dia menyelingi dua gol rekan duetnya lewat sundulan mematikan.

Mereka berdua tampak serasi memadukan reaksi kimiawi zat-zat alami dari dalam tubuh atletis yang positif dan nyaman sehingga melekat erat ke sembilan rekan sepermainan di tengah lapangan. Tim Qatar bersatu-padu tanpa kendala selama 90 menit waktu normal plus 15 menit tambahan.

Fokus Afif membantu Qatar mempertahankan gelar Piala Asia mereka daripada mengejar impian pribadi. Afif kembali membuahkan penampilan yang memukau, mengundang pertanyaan pada konferensi pers usai laga tentang kemungkinan dia bermain di klub Eropa.

“Setiap pemain ingin bermain di Eropa. Jika saya mendapat kesempatan bermain, saya ingin pergi besok. Namun ini bukan hanya tentang Akram saja; ini tentang negara saya dan itu adalah prioritas utama saya,” kata Pemain Terbaik AFC 2019 itu.

Afif dan Ali memainkan peran penting dalam kemenangan Qatar pada tahun 2019 tetapi pemain sayap berusia 27 tahun itu mengatakan mempertahankan gelar mereka membutuhkan upaya tim.

“Almoez adalah pemain yang sangat penting. Namun, kami tidak bisa bermain hanya dengan Almoez dan saya sendiri melawan 11 pemain lainnya. Kami semua bersaudara dan kami saling membantu. Ini tentang 11 pemain di lapangan."

“Saya ingin mendedikasikan kemenangan ini untuk para penggemar. Kami berusaha mengikuti instruksi pelatih semaksimal mungkin. Selamat untuk penggemar kami!” ujar Akram.

Pelatih kepala Marquez Lopez mengaku senang Qatar membuka kampanye mereka dengan kemenangan.

“Saya turut berbahagia untuk para pemain dan fans. Saya senang untuk 80.000 penggemar yang datang dan mendukung kami, dan saya senang kami mengendalikan permainan dan hasilnya bukanlah kejutan bagi saya," ujar Lopez.

“Kami akan mengambil langkah demi langkah. Kami masih memiliki dua pertandingan di babak penyisihan grup untuk lolos, dan kami tidak boleh berpikir terlalu banyak."

“Kami melakukan pekerjaan rumah kami melawan tim Lebanon, dan tidak ada kejutan. Kami mencoba menampilkan permainan kami sendiri dan mencapai tujuan kami. Saya puas dengan kinerjanya dan inilah jalan yang harus kami ambil. Namun, selalu ada ruang untuk perbaikan,” katanya.

Qatar telah bertakhta di puncak Asia. Pepatah ini menyegel mereka: "Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian." Sempat diwarnai perjalanan tim naik-turun seperti rombongan kafilah menyusuri gurun tak bertepi. Akhirnya mereka sampai ke tepian.

Mendiang Andi Darussalam Tabusalla, satu hari semasa hidupnya di emperan sebuah warung kopi di Makassar, pernah membanggakan kemenangan Indonesia atas Qatar di Piala Asia 2004. "Si Dukun Putih akhirnya dipecat. Kasihan juga," katanya.

Si Dukun Putih, julukan pelatih Qatar saat itu, yang bernama Philippe Troussier. Juru taktik asal Prancis tersebut kini kembali berkiprah ke Piala Asia setelah 20 tahun. Kali ini, dia membesut Vietnam.

Sementara ADS -- panggilan akrab Andi Darussalam Tabusalla -- telah wafat pada 16 Agustus 2021. ADS menjabat manajer tim Indonesia dalam laga dengan kemenangan Garuda 2-1 pada 18 Juli 2004 di Workers Stadium, Beijing. Bukan hanya beliau yang terkenang pertandingan bersejarah tersebut.  

Dua pencetak gol Merah Putih, Budi Sudarsono dan Ponaryo Astaman, tentu masih ingat kegemilangan mereka. Skuad Ivan Kolev diisi hebat oleh sebelas pilar andalan lokal yang sungguh membanggakan.

Kurang dari 20 tahun setelah dikalahkan Indonesia, Qatar menggenggam juara Asia. Sementara Budi dan Ponaryo mungkin prihatin karena mutu regenerasi pesepakbola domestik makin menurun.

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan