close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Indonesia U-24 vs Uzbekistan U24. Foto: SS RCTI
icon caption
Indonesia U-24 vs Uzbekistan U24. Foto: SS RCTI
Olahraga
Jumat, 29 September 2023 11:06

OPINI: timnas U-24 kalah terhormat di Asian Games 2023

Genap sudah waktu bertambah lebih lama lagi. Indonesia masih harus puasa medali sepak bola Asian Games.
swipe

Skor akhirnya 0-2. Pemain Indonesia membuktikan telah bertarung hebat penuh semangat. Pantang menyerah, tak mau kalah. Tim nasional U-24 cukup lumayan. Kalah dari Uzbekistan. Terhenti di 16 Besar Asian Games Hangzhou 2023, Kamis (28/9).

Pahlawan biasa menderita kekalahan, PSSI U-24 hanya kalah tiga kali. Tapi pemain PSSI tidak berjuang seperti pahlawan. Para pahlawanlah yang (mungkin) berjuang seperti pemain PSSI. Mereka bertarung mengumpulkan spirit heroik bergabung jadi satu.

Permainan 2x45 menit. Seakan-akan terasa 20x450 menit bagi publik Tanah Air. Pasti banyak yang waswas menahan napas takut kalah. Lawan tak henti-henti menyerang bagai penjajah. Dari segala sisi. Beruntung tak ada rekan sepermainan Merah-Putih yang berkhianat membelot ke pihak musuh.

Taktik Bertahan Total

Robi Darwis dkk menerapkan strategi kompak. Bertahan total. Menjiplak taktik timnas U-20 di Piala Asia U-20 2023 lalu. Saat menghadapi musuh yang sama. Tapi mereka lupa. Lupa waktu.

Timnas U-20 racikan Shin Tae-yong menahan lawannya tanpa gol di bulan Maret kemarin. Timnas U-24 besutan Indra Sjafri juga bermain kaca mata. Sama-sama selama 90 menit. Setelah itu Daffa Fasya meninggalkan tiangnya. Usai waktu normal, Ernando Ari masih menjaga gawangnya. Itu yang berbeda.

Rizky Ridho cs berhasil meredam bahaya. Seluruh punggawa Uzbekistan U-24 dibuat tak berkutik. Kapten kesebelasan sekaligus pengatur permainan, gelandang serang 10-Jasurbek Jaloliddinov, banyak mati gaya. Eksekutor bola mati itu sempat masuk perangkap Garuda Muda-muda.

Di tengah lapangan, Ridho bersama Andy Setyo menggalang rapat barisan pertahanan. Mereka fokus menghalau setiap arah serangan yang diatur si Nomor 10. Semua aman terkendali.

Lari dari Kenyataan

Di pinggir lapangan, Timur Kapadze memegang kepalanya sendiri. Dia pasti tidak percaya skor 0-0. Dia tampak melamun. Otaknya berputar, pikirannya melayang jauh, tak terasa, sampai ke Argentina.

Pelatih Uzbekistan agaknya bisa membaca khatam jebakan yang menjerat Jaloliddinov. Ia menambah darah segar, tenaga baru, Sherzod Esanov, di babak tambahan. Kartu As ini luput terpantau radar depan Ernando.

Baru saja debutnya pada laga kedua versus Hong Kong di fase grup Asian Games ini juga. Main hanya 65 menit, lalu digantikan Jaloliddinov. Dia bukan pemain Uzbekistan U-23, tapi U-20.

Esanov sudah kenal gaya timnas. Ia berperan sebagai gelandang tengah ketika skuad STY U-20 mengimbanginya, enam bulan lalu. Dua bulan kemudian, dia tampil di Piala Dunia U-20, mencetak gol ke Selandia Baru, membawa timnya hingga 16 Besar di Argentina.

Argentina, pikir Kapadze. Pikirannya berlari dari kenyataan. Kenyataan pahit laga imbang tanpa gol yang terbayang akan berakhir dengan adu penalti. Dia ingat sesuatu. Di bangku cadangan tersimpan pemain Piala Dunia U-20 Argentina 2023. 

Sejak Esanov masuk, beban Jaloliddinov berangsur ringan. Posisi gelandang serang padat diisi oleh dua pemain. Peran ganda ini asli senjata jenis baru. Duet mepet keduanya berderet mengantar rentetan serangan lebih efisien.

Sesaat sebelum sepak pojok Jaloliddinov di menit 92. Kadek Arel merapatkan kawalan. Sempat dia adu senggol dengan Esanov di luar kerumunan, di sekitar titik penalti. Esanov mengecohnya lewat manuver ke belakang, Arel ikut mundur dan terjebak seketika.

Jaloliddinov dengan cerdik menggelundungkan bola, memantul dua kali, bukan mengangkatnya atau menggulirkan datar saja. Irisannya melintir tajam, membuyarkan tiga lapis pertahanan. Seorang penyerang White Wolves di latar depan melakukan gerak tipu tanpa bola, Robi dan Ramadhan terseret tipuannya. Bola lepas. Di tengah titik penalti, Esanov sudah berdiri bebas.

Arel kena gertak sambalado, terpancing provokasi. Robi dan Ramadhan terseret emosi. Jika sebelum tendangan penjuru mereka berkomunikasi tentang siapa mengambil bola bawah dan siapa menyikat bola atas, tidak mungkin keduanya berebut menubruk lawan.

Eksekusi bola mati. Alur serangan cukup dua sentuhan mematikan. Hanya hitungan detik terjadi kekeliruan kecil di jantung pertahanan. Dua pemain membabi buta, satu mati langkah. Kipernya tidak menyangka dua lapisan itu jebol.   

Jatuh Tertimpa Tangga

Sebaliknya gol penyeimbang Ramadhan Sananta dianulir karena offside manual tanpa VAR. Keputusan murni dari mata hakim garis berjarak sejauh 25 meter. Kartu merah kemudian mengganjar aksi "preman" konyol antiklimaks Hugo Samir menodai lambang di dadanya sendiri. Dua petaka sekaligus menjatuhi timnas U-24, menimpa tangga perempat final yang diidamkan selama 38 tahun.

Genap sudah waktu bertambah lebih lama lagi. Indonesia masih harus puasa medali sepak bola Asian Games. Satu-satunya perunggu bersejarah, peringkat ketiga, diraih di Tokyo 1958.

Edisi 2026 mendatang, Asian Games digelar di Jepang kembali. Tanda waktu seolah berbunyi nyaring untuk medali perunggu itu dikalungkan lagi. Kepada pemiliknya yang dalam enam dekade terakhir sama sekali tidak memiliki bakat-bakat besar untuk mencapai prestasi tinggi. Mimpi indah selalu hadir di tidur panjang PSSI. Pas bangun, tak ada yang baru, medali, piala apalagi. Zzzz...

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan