close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi suap dalam sepak bola. Alinea.id/Firgie Saputra.
icon caption
Ilustrasi suap dalam sepak bola. Alinea.id/Firgie Saputra.
Olahraga
Kamis, 11 November 2021 10:19

Porak-poranda Galatama karena suap sepak bola

Galatama adalah kompetisi sepak bola nasional menuju profesional. Namun, mental para pemainnya jauh dari profesional.
swipe

Karier Jafeth Sibi sebagai pemain sepak bola berada di ujung tanduk, setelah ia mengakui menerima suap. Padahal, akhir 1970-an kapten klub Perkesa 78 itu berada dalam prestasi mentereng. Jafeth masuk dalam tim nasional PSSI Utama yang berlaga di Kuala Lumpur, Malaysia pada turnamen Merdeka Games 1979.

Keadaan keluarganya pun harmonis. Beristrikan mantan atlet, Jafeth dikarunia dua orang anak. Menurut Tempo edisi 28 Juli 1979 dalam artikel “Tetap Perkesa 78”, Jafeth mendapat gaji yang lumayan besar dari Perkesa 78, Rp85.000 sebulan. Namun, rayuan bandar judi dengan iming-iming uang Rp1 juta akhirnya membuat ia terperosok. Ia dipecat dari klub dan dijatuhi sanksi PSSI tak boleh beraktivitas di sepak bola.

Fulus di lapangan hijau

Jafeth adalah satu dari beberapa pemain Perkesa 78 yang diboyong Acub Zainal—bos klub yang mantan Pangdam XVII/Tjenderawasih (1970-1973) dan Gubernur Irian Jaya (1973-1975)—dari Bumi Cenderawasih. Acub mendidik pemain-pemain sepak bola setengah jadi dari sana, dipoles menjadi hebat untuk berkompetisi di Liga Sepak Bola Utama (Galatama).

Menurut Toni Prasetyo dalam buku Antara Bisnis dan Sepak Bola di Solo: Kiprah Klub Arseto, 1977-1998 (2020), Galatama diperkenalkan Ketua Bidang Olahraga PSSI Soeparjo Poncowinoto dalam Sidang Pengurus Paripurna II PSSI pada 1978.

Di kompetisi ini, klub akan ditata agar profesional, misalnya memperkenalkan sistem kontrak pemain. Klub-klub juga harus didanai swasta, bukan dari APBD seperti Perserikatan—kompetisi lain yang dianggap masih amatir.

Galatama bergulir pada 17 Maret 1979. Ada 14 klub yang ikut kompetisi musim pertama ini. Paling banyak berasal dari Jakarta, antara lain Jayakarta, Indonesia Muda, Warna Agung, Arseto, Tunas Inti, Bangka Billiton Sports Association (BBSA) Tama, Cahaya Kita, dan Buana Putra.

Beberapa pemain Perkesa 78./Repro buku Acub Zainal: I Love the Army (1998) karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dkk.

Sisanya berasal dari beberapa kota, seperti Pardedetex dari Medan, Perkesa 78 dari Bogor, Jaka Utama dari Lampung, Sari Bumi Raya dari Bandung, Niac Mitra dari Surabaya, dan Tidar Sakti dari Magelang. Berlabel profesional, nyatanya suap melanda musim pertama kompetisi.

Kasus suap yang melibatkan Jafeth terbongkar pada Juli 1979. Melansir Tempo edisi 28 Juli 1979, Jafeth menerima uang suap dari Jeffry Suganda Gunawan untuk mengalah dari Cahaya Kita dalam laga Galatama di Stadion Menteng, Jakarta pada 5 Juni 1979. Pertandingan itu dimenangkan Cahaya Kita 1-0.

Di samping Jafeth, empat pemain Perkesa 78 lainnya, yakni Baso Ivak Dalam, Yulius Woff, Frederick Sibi, dan Saul Sibi, yang disebut juga terlibat dalam skandal suap, hanya diberi peringatan keras dari klub dan PSSI.

Dalam buku Acub Zainal: I Love the Army (1998) yang ditulis Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dkk, bos Perkesa 78 Acub Zainal sangat kecewa dengan kelakuan anak asuhnya. Ia kemudian meminta kepada Komisi Galatama agar Perkesa 78 diizinkan tak ikut kompetisi selama dua bulan. Acub pun sempat ingin membubarkan Perkesa 78.

“Namun, ia cabut kembali setelah 10 hari karena mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk jalan terus,” tulis Nurinwa dkk.

Keputusan itu juga diambil berkat pertimbangan, ada pemodal yang ingin menyuntikan uangnya di Perkesa 78. “PT Haron Industry bertekad bekerja sama dalam membangun kembali klub itu,” tulis Tempo, 28 Juli 1979.

Setelah kasus itu, Perkesa 78 pindah markas ke Palembang. Di musim kompetisi berikutnya, Acub menyeberang ke klub lain. Ia menjadi Ketua Umum Niac Mitra.

Usai skandal yang menjerat Perkesa 78, menurut Toni, kasus serupa menyeret Warna Agung. Kasus suap yang terbongkar pada Oktober 1979 ini melibatkan gelandang serang Marsely Tambayong dan kiper Endang Tirtana. Mereka diberi Rp1 juta dari bandar judi.

“Kedua pemain itu diberhentikan sementara waktu. Kasus suap Warna Agung terjadi ketika melawan Niac Mitra, yang berakhir dengan skor 3-3,” tulis Toni.

Menurut Erik Destiawan dalam skripsinya Galatama 1979-1994: Perkembangan Sepak Bola non Amatir di Indonesia (2010), kecurigaan suap muncul dari pihak klub yang menilai laga melawan Niac Mitra tak beres. Warna Agung lebih dahulu unggul dengan skor 3-1. Lalu, mampu disamakan dengan dua gol.

Borok suap memaksa PSSI bertindak lebih tegas. Pada 9 Oktober 1981, PSSI membentuk Tim Peneliti dan Penanggulangan Kasus Suap (TPPKS), dengan Mursanto sebagai ketuanya.

“TPPKS bertugas mengumpulkan data yang terlibat suap, seperti pemain, wasit, pelatih, dan tim manajer, serta memberi saran kepada pengurus harian PSSI tentang hukuman yang diberikan terhadap yang terlibat suap,” tulis Nurinwa dkk.

“Lembaga-lembaga yang mendukung tim ini, antara lain kejaksaan, kehakiman, dan Polri.”

Para mafia Galatama

Dalam penyelidikan, menurut Erik, Jeffry Suganda yang dikenal sebagai bandar judi dapat bebas keluar-masuk asrama dan bergaul dengan para pemain Warna Agung, sebelum skandal suap menjerat klub itu.

“Jeffry Suganda adalah orang yang sama, yang diketahui melakukan suap terdapat Jafeth Sibi, pemain Perkesa 78,” tulis Erik.

Ternyata, Erik menulis, Jeffry cuma seorang makelar kecil. Sebab, di belakangnya, diketahui ada 14 orang lainnya yang berasal dari Jakarta dan Semarang—ikut mengendalikan pertandingan di Galatama.

Kesebelasan Warna Agung melawan Arseto dalam kompetisi Galatama musim kedua./Foto Pos Kota, 15 April 1981/Repro Galatama 1979-1994: Perkembangan Sepak Bola non Amatir di Indonesia (2010) karya Erik Destiawan.

Mereka adalah Ya Sen, The Sen The Khong, Jefry Gunawan, Bie Tek, Bon Hin, Yusin, Siddik, Oker, dan Akian. Semuanya dari Jakarta. Sedangkan dari Semarang, antara lain Oey Tjon Liat alias Arief Hidayat, Samino Budiman, Oey Tjien Hiang, dan Tek Kong. Nama-nama itu masuk dalam daftar hitam PSSI.

“Mereka sudah tidak asing lagi di kalangan judi bola, termasuk juga yang terlibat dalam kasus suap Merdeka Games 1978,” tuils Erik.

Pada 1984, Acub yang sukses memimpin Niac Mitra pada 1980/1982 menjadi juara Galatama ditunjuk sebagai Ketua TPPKS PSSI. Ia dikenal sebagai sosok yang sudah muak terhadap suap di kompetisi sepak bola nasional. Di masa Acub memimpin tim antisuap, terbongkar beberapa skandal besar.

Bak pahlawan kesiangan, bos tim Cahaya Kita, Kaslan Rosidi paling lantang "bernyanyi" terkait suap di Galatama. Nurinwa dkk menulis, Kaslan pernah mengungkapkan, ada 13 klub Galatama yang terlibat suap. Sebanyak 16 pemain dari delapan klub, empat ofisial, dan 10 wasit diancam Kaslan akan dilaporkan ke polisi.

Pada 1984, Kaslan diundang Acub ke kantor Liga Utama di Stadion Senayan, Jakarta untuk memberi kesaksian perihal suap. Cara Kaslan membongkar suap cukup nekat. Ia mengaku, terjun langsung ke gelanggang perjudian.

“Sebab, katanya, itu satu-satunya cara untuk mengetahui mafia suap dan siapa-siapa yang terlibat di dalam permainan kotor itu,” tulis Tempo, 31 Maret 1984 dalam artikel “Spion Kaslan Berkisah”.

Kecurigaan Kaslan terhadap permainan kotor itu bermula ketika Cahaya Kita kalah dengan skor mencolok 0-4 dari Arseto dan 0-6 dari Makassar Utama pada Galatama 1982/1983.

Banyak hal yang diungkapkan Kaslan dalam pertemuan dengan Acub. Suatu hari usai klubnya melawan Niac Mitra, dikutip dari Tempo, Kaslan mengaku pernah dirayu para tukang suap untuk turut bermain. Bandar judi itu mengatakan, semua pemainnya sudah berhasil dikuasai, hanya Kaslan yang belum.

Kaslan pun mengaku pernah menangkap basah pemainnya menghubungi seorang bandar judi, saat Cahaya Kita bertanding di Surabaya. Di lain waktu, Kaslan mencium bau busuk kala tujuh pemainnya diajak makan-makan oleh seorang petaruh di sebuah restoran di Palmerah, Jakarta Barat, ketika Cahaya Kita akan bertanding di Pluit, Jakarta Utara.

“Mereka membicarakan kode-kode yang akan digunakan dalam gelanggang nanti. Katanya, si tangan jahil waktu itu meminta Cahaya Kita supaya takluk empat gol,” tulis Tempo, 31 Maret 1984.

Koar-koar Kaslan menjadi bumerang baginya. Menurut Tempo edisi 21 April 1984 dalam artikel “Buat Penyulut Suap Bubar”, PSSI membekukan klub miliknya, Cahaya Kita, sampai batas yang tak ditentukan. Perkaranya, Cahaya Kita dituduh terlibat suap sejak 1978-1984.

Kecurigaan ada permainan kotor di Cahaya Kita terendus dari sejumlah kekalahan mencolok tim ini. Di akhir kompetisi Galatama wilayah timur awal 1984, Cahaya Kita bahkan sempat dilibas Warna Agung dengan skor 13-1.

Namun, Kaslan malah melawan. Ia sesumbar bisa membuktikan klub-klub lain yang terlibat suap lebih besar. Ia pun menuduh PSSI sengaja menyingkirkannya.

Infografik Alinea.id/Firgie Saputra

Kepada pers, seperti dikutip dari Tempo edisi 2 April 1988 dalam artikel “Bandar Suap dalam Sepak Bola Kita” Kaslan menuduh pelaku dari kekalahan telak klubnya adalah Lo Bie Tek. Bie Tek merupakan seorang pengusaha yang menjadi pengurus Cahaya Kita.

Di akhir kisah, Kaslan dan Lo Bie Tek dihukum PSSI tak boleh mengurus sepak bola lagi. Bendahara klub Caprina Bali, Sun Kie alias Jimmy Sukisman pun dianggap sebagai salah satu mafia di Galatama. Menurut Tempo edisi 24 Januari 2011, Sun Kie dihukum PSSI selama lima tahun tak boleh aktif di sepak bola nasional karena menyuap pemain Makassar Utama.

Banyaknya skandal suap membuat pertandingan Galatama mulai ditinggalkan penonton. Klub-klub pun banyak yang rugi dan bubar.

Suap ibarat sebuah jaringan yang tak mudah dibongkar. Hal itu diakui Acub kala menjabat Ketua TPPKS PSSI. Nurinwa dkk menulis, Acub menemui hambatan memberantas habis cukong suap.

“Penyebabnya, judi ternyata sudah merangkul kuat ke segenap pelaku sepak bola,” tulis Nurinwa dkk.

Ketika Acub memimpin Niac Mitra, tulis Nurinwa dkk, lagi-lagi suap merusak tatanan klub itu. Ia sangat terpukul.

“Sampai menangis dalam acara jumpa pers Niac Mitra menemani Pak Wenas (Agustinus Wenas, pemilik Niac Mitra) di Gedung SBC Surabaya,” tulis Nurinwa dkk.

Cerita suap dan pengaturan skor nyatanya abadi dalam sepak bola kita. Teranyar, lima pemain Perserang yang berlaga di Liga 2 dipecat dari klub dan dijatuhi sanksi Komite Disiplin (Komdis) PSSI karena terbukti terlibat suap dalam laga melawan RANS Cilegon FC.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan