sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dua Menteri Jokowi gagal jadi anggota legislatif

Mereka yang berhasil lolos berkompetisi dari Dapil Jawa Barat VI adalah petahana. Sementara Menteri Hanif dan Menteri Lukman gagal.

Soraya Novika
Soraya Novika Sabtu, 11 Mei 2019 20:00 WIB
Dua Menteri Jokowi gagal jadi anggota legislatif

Sejumlah nama populer baik dari tokoh politik, selebritas hingga menteri gagal lolos ke Senayan. Di antara nama-nama yang populer yang terjegal jadi anggota DPR itu ada dua menteri Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo. 

Perebutan kursi DPR RI di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat VI terbilang sengit. Dari 96 caleg dan 16 partai politik yang bertarung, hanya enam kursi DPR RI yang tersedia di dapil ini. 

Hasil Pleno Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Bekasi dan Kota Depok, calon anggota legislatif atau caleg yang lolos paling banyak dari PKS, yakni dua orang. Sisanya masing-masing satu dibagi caleg dari PAN, Gerindra, PDIP dan Golkar. 

Dari keenam caleg yang lolos, lima orang petahanan. Dan hanya satu orang pendatang baru. Para petahana itu adalah Intan Fauzi (PAN), Mahfudz Abdurrahman (PKS), Nuroji (Gerindra), Sukur Nababan (PDIP), Wenny Haryanto (Golkar). Sedangkan pendatang baru adalah Nur Azizah dari PKS. 

Sementara menteri Jokowi yang gagal dalam perebutan kursi adalah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dari PPP, dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dari PKB. 

Dari jajaran selebritas yang gagal melenggang ke Senayan adalah Fauzi Badila dari Gerindra, Angel Karamoy dari PDIP, Lucky Hakim dari Nasdem dan Farhat Abas dari PKB.

Popularitas bukan jaminan 

Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin mengaku tidak terkejut dengan banyaknya tokoh populer, termasuk pejabat negera, yang gagal menjadi anggota DPR. 

Sponsored

Bagi Ujang, hasil ini seharusnya menjadi peringatan bagi siapapun yang menjadi caleg dengan latar belakang pejabat negara atau politikus agar turun ke masyarakat jauh hari sebelum perhelatan pemilu.

"Kalau Pak Hanif dan Pak Lukman gagal, tidak terlalu mengejutkan. Namanya perjuangan, bisa kalah dan bisa menang. Tetapi ini menjadi refleksi dan evaluasi bagi siapapun caleg nanti," ujar Ujang melalui pesan tertulis yang diterima Alinea.id, Sabtu (11/5).

Menurut dia, faktor utama kegagalan sejumlah tokoh tersebut karena kurang interaktifnya para tokoh tersebut ke masyarakat. Kedepan, saran Ujang, siapapun yang jadi caleg harus turun sejak awal agar dikenal masyarakat. Sehingga masyarakat merasakan jabatan yang mereka emban. 

Sekali lagi, Ujang menekankan kalau popularitas caleg tidak menjamin elektabilitas terpilih. Apalagi jika caleg tidak turun, masyarakat tidak akan mengenalnya. 

Malas turun 

Ujang menyebut faktor lain kegagalan para menteri di dapil tersebut. Kedua menteri Jokowi tersebut dinilai menggunakan pola kampenye cara lama. 

Keduanya beranggapan Pileg 2019 sama dengan Pileg 2014 lalu. Sehingga mereka turun kampanye di ujung menjelang pemilu. 

"Permainan di ujung pemilu inilah membuat mereka celaka, sehingga tidak terpilih. Padahal model pemilu 2019 ini sangat berbeda. Akhirnya yang lolos adalah caleg yang siap. Sekalipun mereka pendatang baru, namun menyiapkan diri jauh hari karena pemilu ini berat sekali. Biasanya incumbent atau caleg baru yang lolos ke Senayan itu adalah mereka turun tiga tahun sebelumnya," papar Ujang. 

Penyelenggaraan pileg dan pilpres yang serentak juga memberatkan caleg maju ke DPR RI. Menurutnya, caleg yang berkompetensi dengan sistem pemilu tertutup, membuatnya semakin kalah pamor dibandingkan pilpres dari segi pemberitaan. 

Ujang juga menyoroti caleg incumbent yang gagal karena tidak turun ke dapil. Walhasil, masyarakat tidak pernah merasakan apa programnya.

Apabila Menteri Hanif dan Menteri Lukman punya investasi politik di dapil, keduanya berpotensi terpilih. "Namun dugaan saya, investasi politik dari dua pejabat negara ini tidak ada. Hal ini membuat masyarakat tidak memilih keduanya," ucapnya.

Senada dengan Ujang, Peneliti Senior Forum Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengaku persaingan di dapil Jabar VI sangat ketat. Karena selain popular, keterpilihan seorang caleg juga ditentukan kedekatan emosional antar caleg dan pemilih.

"Jadi bagi saya, gagalnya figur populer, artis ataupun menteri bukan fenomena baru. Pemilu 2014 lalu ada begitu banyak pesohor yang bertarung, tetapi hanya beberapa saja yang berhasil menuju Senayan," katanya.

Di kesempatan terpisah, kabar kegagalan kedua menteri Jokowi tersebut dibenarkan oleh salah satu calon anggota DPR RI dapil Jabar VI dari partai Gerindra, Nuroji.

"Ya benar keduanya gagal," ujar Nuroji kepada Alinea.id

Akan tetapi, saat disinggung terkait opini Ujang dan Lucius atas faktor kurangnya interaksi kedua menteri Jokowi tersebut ke masyarkat, ia enggan berkomentar. 

"Yang jelas suara partai mereka tidak cukup, itu saja," katanya.