logo alinea.id logo alinea.id

Yang tersirat dari surat SBY dan absennya AHY di kampanye akbar Prabowo-Sandi

Kampanye yang diklaim dihadiri jutaan pendukung Prabowo-Sandi itu dinilai SBY tidak lazim.

Armidis
Armidis Minggu, 07 Apr 2019 18:09 WIB
Yang tersirat dari surat SBY dan absennya AHY di kampanye akbar Prabowo-Sandi

Dari Singapura, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengirimkan surat keberatan atas model kampanye akbar Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (7/4) pagi. Surat itu dikirimkan ke sejumlah petinggi partai Demokrat. 

Kampanye yang diklaim dihadiri jutaan pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu dinilai SBY tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif. 

"Pemilihan presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal set up-nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap semua untuk semua," tulis SBY dalam surat itu. 

Seolah sejalan dengan keberatan SBY atas model kampanye Prabowo-Sandi, Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) absen dalam kampanye akbar itu. Padahal, AHY biasanya rutin mendampingi Prabowo dalam kampanye ke berbagai daerah. 

Dalam kampanye akbar tersebut, hampir semua petinggi partai politik pengusung Prabowo-Sandi hadir, semisal Ketua Dewan Pertimbangan PAN Amien Rais, Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab pun bahkan turut berorasi via video yang ditayangkan di sela-sela kampanye.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Nachrowi Ramli menyebut bahwa AHY sebenarnya berencana hadir. Namun, AHY sibuk. "Baru tadi malam (AHY) pulang dari luar kota, terus ada kegiatan lagi," ujarnya di sela-sela kampanye akbar Prabowo-Sandi di GBK. 

Juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Tb Ace Hasan Syadziliy menilai kekhawatiran SBY dalam surel yang bocor ke kalangan pewarta itu terbukti. Menurut dia, kampanye akbar Prabowo-Sandi di GBK cenderung menonjolkan politik identitas. 

Hal itu, menurut Ace, terlihat dari kerangka aksi kampanye yang terkesan ingin mengulang sentimen gerakan aksi 212. "Mulai dari salat subuh berjemaah, orasi politik yang dibungkus tausiyah sampai dengan seruan membaca fatwa MUI," ujarnya. 

Sponsored

Meskipun dibungkus dalam bahasa tausiyah, Ace memandang, orasi politik-politik yang didengungkan penuh dengan bahasa kebencian dan permusuhan. "Bahkan orasi Rizieq Shihab (via video yang ditayangkan di GBK) kembali membangun framing kubu 02 kalah karena dicurangi," jelasnya.

Sinyal perpecahan? 

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, ketidakhadiran AHY menandakan keretakan dalam Koalisi Indonesia Adil Makmur yang diusung Prabowo-Sandi. 

"Ada sinyal ketidakharmonisan antara partai dalam koalisi pendukung Prabowo-Sandi. Setidaknya, hubungannya dengan partai Demokrat," ujar Ujang kepada Alinea.id via pesan singkat telepon seluler (ponsel). 

Ujang menduga keberatan SBY atas model kampanye eksklusif itu juga diamini oleh AHY lewat ketidakhadirannya dalam kampanye tersebut. "Seolah-olah dikuasai dan didominasi kelompok atau agama tertentu. Padahal, Indonesia itu berwarna, baranekaragam suku, ras, agama, budaya, bahasa," tuturnya. 

Namun demikian, Ujang menilai, absennya AHY dalam kampanye akbar tersebut merugikan Partai Demokrat. Pasalnya, kampanye itu berkarakter nasionalis dan bukan eksklusif milik alumni gerakan 212.

"Bisa merugikan Demokrat karena Demokrat merupakan partai nasionalis yang tentu kampanye-kampanyenya juga berkarakteristik nasional. Bukan berkarakteristik kampanye seperti gerakan 212," ujarnya. (Ant


 

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB