Rusaknya jembatan gantung penghubung Dusun Sarah Sare dan Dusun Durian di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Cereumen, Kabupaten Aceh Barat, Aceh, akibat bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu menghadirkan kegundahan bagi warga terdampak. Hal itu karena warga terpaksa meniti jembatan tali baja untuk menuju sekolah, kebun, dan tempat beraktivitas.
Kini, harapan untuk melintasi sungai dengam aman menuju pusat aktivitas warga mulai dirajut kembali dengan pembangunan Jembatan Gantung Perintis Garuda yang rencananya akan mulai bisa diakses warga pada akhir Agustus 2026.
Di sisi sungai, pekerjaan telah memasuki tahap penguatan dan pengecoran tiang fondasi. Jembatan sepanjang sekitar 100 meter dengan lebar 1,2 meter ini dirancang untuk dilintasi kendaraan roda dua dan roda tiga, dengan kapasitas beban maksimal satu ton.
Pembangunan jembatan perintis tersebut dikerjakan oleh 35 prajurit TNI dari Dandenzibang 1/IM Meulaboh. Kehadirannya menjadi penanganan cepat untuk memulihkan jalur antardusun yang sebelumnya terputus, sekaligus memberi akses yang lebih aman bagi warga selama menunggu solusi permanen.
Koordinator Lapangan Pembangunan Jembatan Perintis Desa Sikundo, Letkol Czi Azhari Lubis, mengatakan jembatan ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2026. Target itu menjadi penting agar warga tidak lagi bergantung pada jalur darurat yang berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami diberi tugas 45 hari untuk menyelesaikan pembangunan. Akhir Agustus sudah harus kelar. Kami sudah bekerja lebih dari seminggu, kami akan kebut pembangunannya,” kata Azhari saat mendampingi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas) Pascabencana Sumatera meninjau pembangunan jembatan pada Sabtu (8/8/2026).
Bagi masyarakat Sikundo, jembatan bukan hanya penghubung dua dusun. Infrastruktur ini akan memudahkan warga mengangkut hasil perkebunan, memperlancar mobilitas harian, serta memberi anak-anak jalur yang lebih aman untuk berangkat dan pulang sekolah.
Perwakilan Tim Satgas PRR Aceh dari Kementerian Dalam Negeri, Imran, mengapresiasi keterlibatan TNI dalam percepatan pemulihan infrastruktur di berbagai wilayah terdampak. Menurutnya, kerja cepat di Sikundo mencerminkan semangat gotong royong untuk membuka kembali akses masyarakat yang sempat terisolasi.
“Saya tidak bisa pungkiri, TNI ini luar biasa dalam ikut serta dalam penanganan PRR, tidak hanya di Sikundo, tapi di beberapa tempat yang saya kunjungi,” ujar Imran.
Ia berharap penyelesaian jembatan segera mengakhiri keterisolasian warga dan menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di Desa Sikundo. “Sehingga masyarakat yang terisolasi bisa memanfaatkan akses dari wilayahnya ataupun untuk menjalankan aktivitas ekonomi di luar wilayahnya,” katanya.
Peninjauan di Sikundo menjadi bagian dari pemantauan terpadu Satgas PRR di Aceh Barat. Pada kunjungan yang sama, tim juga melihat perbaikan sawah rusak ringan di Desa Jambak serta penanganan abrasi tanggul sungai di Kecamatan Pante Ceureumen bersama pemerintah daerah, Balai Wilayah Sungai Aceh, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh, dan penyuluh pertanian.