Iran menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) berlaku di seluruh front konflik, termasuk Lebanon. Teheran juga memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut akan memiliki konsekuensi yang harus ditanggung oleh AS dan Israel.
Melansir Anadolu Ajansi, Selasa, (2/6) Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa gencatan senjata yang disepakati antara Iran dan AS tidak terbatas pada satu wilayah tertentu.
“Gencatan senjata antara Iran dan AS secara tegas mencakup semua front, termasuk Lebanon. Pelanggaran di satu front merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata di semua front,” tulis Araghchi melalui platform X, Minggu (31/5).
Ia menegaskan bahwa AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi yang timbul apabila kesepakatan tersebut dilanggar.
Pernyataan itu disampaikan setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan ragu membantu Lebanon menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi ilegal Israel.
Ketegangan kembali meningkat setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan militer Israel melancarkan serangan udara ke Beirut pada Senin (1/6). Serangan tersebut terjadi meskipun gencatan senjata yang dimediasi AS masih berlaku.
Situasi di Timur Tengah terus memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. Sebagai respons, Teheran melakukan serangan balasan yang menargetkan Israel serta sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk, disertai penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi global.
Gencatan senjata antara Iran dan AS mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad belum berhasil menghasilkan kesepakatan damai yang bersifat permanen.