Iran dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah apabila Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap infrastruktur kelistrikan negara itu.
Sumber yang dekat dengan Houthi menyebut kelompok tersebut telah menyelesaikan persiapan untuk mengerahkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab el-Mandeb guna menyerang kapal-kapal yang melintas apabila Amerika Serikat menyerang jaringan listrik Iran seperti dilansir dari New York Post, Jumat (17/7).
Menurut sumber tersebut, permintaan itu disampaikan langsung oleh kepemimpinan Iran kepada Houthi. Jalur laut yang berada di antara Yaman, Djibouti, dan Eritrea itu disebut akan ditutup jika Washington menyerang infrastruktur kelistrikan Teheran.
Sebelumnya, Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan menyerang sejumlah kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut. Sejumlah media juga melaporkan bahwa serangan Amerika Serikat sebelumnya telah menghantam lebih dari 2.000 target yang berkaitan dengan jaringan listrik Iran sehingga memberikan tekanan terhadap sistem kelistrikan negara tersebut.
Apabila Selat Bab el-Mandeb ikut ditutup, gangguan terhadap pasokan energi global diperkirakan akan semakin besar. Jalur tersebut merupakan pintu masuk menuju Laut Merah dan menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
Ketegangan juga meningkat setelah Houthi menembakkan rudal ke arah Arab Saudi, yang disebut mengakhiri gencatan senjata selama empat tahun. Kelompok itu menuduh Riyadh menyerang bandara yang berada di bawah kendali mereka pada awal pekan ini.
Meski volume pelayaran melalui Selat Hormuz lebih besar, sekitar 7 persen pasokan energi dunia saat ini juga dikirim melalui Laut Merah setelah sebagian ekspor minyak Teluk dialihkan menggunakan jaringan pipa Arab Saudi. Karena itu, gangguan di Bab el-Mandeb dinilai dapat memperburuk krisis energi yang telah dipicu penutupan Selat Hormuz.
Analis Timur Tengah dari Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, mengatakan meluasnya konflik hingga mengganggu infrastruktur ekspor dan pelayaran di Laut Merah akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama ekspor minyak dari kawasan tersebut.
"Jika pertempuran semakin intensif dan meluas ke infrastruktur ekspor serta pelayaran di Laut Merah, kondisi itu akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama ekspor minyak dari kawasan ini," ujar Solvedt.