close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian. Foto dokumentasi.
icon caption
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian. Foto dokumentasi.
Peristiwa
Selasa, 21 April 2026 19:05

Puji percepatan Huntara di Bener Meriah, Kasatgas PRR disambut senyum penyintas

Ia menyebut dukungan pemerintah daerah, khususnya Bupati Bener Meriah yang menyediakan lahan datar, sangat membantu percepatan pembangunan.
swipe

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian meninjau langsung perkembangan hunian sementara (huntara) di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Senin (20/4/2026)

Dalam kunjungan tersebut, Tito menyampaikan apresiasi atas percepatan pembangunan huntara yang dinilai mengalami kemajuan signifikan hanya dalam kurun waktu dua bulan. Ia mengaku terkejut melihat perubahan kondisi di lokasi yang sebelumnya masih berupa lahan kosong.

“Saya datang dua bulan lalu bersama Pak Bupati dan Pak Wagub, saat itu lokasi ini masih tahap awal. Sekarang sudah berubah total. Ini luar biasa,” ujar Tito Karnavian.

Menurutnya, salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan huntara ini adalah ketersediaan lahan yang memadai. Ia menyebut dukungan pemerintah daerah, khususnya Bupati Bener Meriah yang menyediakan lahan datar, sangat membantu percepatan pembangunan.

“Di banyak daerah, mencari lahan datar untuk huntara sangat sulit karena kondisi perbukitan. Di sini, lahan sudah siap sehingga pembangunan bisa cepat dilakukan,” tambahnya.

Hunian sementara (huntara) di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, kini menjadi contoh penataan hunian layak bagi penyintas yang tidak hanya cepat dibangun, tetapi juga memenuhi standar kenyamanan bagi penghuninya.

Berbeda dari banyak hunian sementara di daerah lain, kawasan huntara Tunyang dinilai unggul dari sisi penataan lingkungan. Permukaan tanah yang relatif datar dan berbatu membuat area hunian tidak becek, bahkan saat hujan. Selain itu, akses jalan di dalam kawasan telah diperkeras, sehingga memudahkan mobilitas warga.

“Penataan seperti ini penting, karena huntara bukan hanya tempat tinggal sementara, tapi juga ruang hidup yang harus layak,” ujar Tito.

Ia menambahkan, kualitas fisik bangunan huntara di lokasi tersebut juga telah memenuhi standar dasar hunian. Setiap unit dilengkapi fasilitas yang mendukung kebutuhan sehari-hari, sementara fasilitas umum dibangun secara terintegrasi dalam satu kawasan.

Ketersediaan dapur umum, toilet, dan kamar mandi, ruang berkumpul, hingga tempat ibadah menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan huntara tidak lagi bersifat darurat semata, melainkan mulai mengarah pada konsep hunian yang manusiawi dan berkelanjutan.

Selain itu, keberadaan ruang terbuka seperti area bermain anak dan fasilitas olahraga turut memperkuat fungsi sosial kawasan, sehingga huntara tidak terasa sempit atau membatasi aktivitas warga.

Tito menilai, model seperti ini dapat menjadi rujukan dalam pembangunan huntara di wilayah lain, terutama di daerah dengan kondisi geografis yang menantang.

Namun demikian, ia menegaskan huntara tetap bersifat sementara. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) agar masyarakat dapat segera memiliki tempat tinggal permanen.

“Kita ingin memastikan selama di huntara, masyarakat tetap tinggal di tempat yang layak, sambil menunggu huntap selesai dibangun,” katanya.

Kunjungan ini sekaligus menjadi bagian dari evaluasi lapangan untuk memastikan bahwa pembangunan huntara tidak hanya cepat, tetapi juga berkualitas dan berorientasi pada kebutuhan jangka pendek maupun pemulihan jangka panjang masyarakat terdampak bencana.

img
Sahputra
Reporter
img
Sahputra
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan