Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, berhasil meluncurkan misi Artemis II dari Florida, menandai perjalanan bersejarah manusia mengelilingi bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.
Peluncuran dilakukan dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral menggunakan roket Space Launch System (SLS) yang membawa kapsul Orion. Misi ini menjadi langkah penting dalam rencana NASA untuk mengembalikan manusia ke bulan dan melanjutkan eksplorasi ke Mars.
Roket setinggi 32 lantai itu lepas landas disaksikan puluhan ribu orang yang memadati lokasi peluncuran. Dalam misi ini, empat astronaut ikut serta, yakni Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada.
Mereka dijadwalkan menjalani perjalanan hampir 10 hari mengelilingi bulan dan kembali ke bumi, sekaligus menjadi manusia yang menjelajah lebih jauh dari orbit rendah bumi dalam beberapa dekade terakhir.
“Dalam misi bersejarah ini, kalian membawa semangat tim Artemis, keberanian rakyat Amerika dan mitra global, serta harapan generasi baru, semoga berhasil, Artemis II. Mari kita mulai,” ujar direktur peluncuran Charlie Blackwell-Thompson seperti dilansir dari Al-Jazeera, Kamis (2/4).
Beberapa menit setelah peluncuran, komandan misi, Reid Wiseman menyampaikan kondisi dari dalam kapsul. “Kami melihat bulan terbit yang indah, kami menuju langsung ke sana,” ujarnya.
Menjelang peluncuran, sempat muncul ketegangan akibat proses pengisian bahan bakar hidrogen yang sebelumnya pernah mengalami kebocoran dalam uji coba awal tahun ini. Namun, kali ini tidak ditemukan kebocoran signifikan.
Tim peluncuran berhasil mengisi lebih dari 700.000 galon bahan bakar ke dalam roket tanpa kendala berarti. NASA juga menyelesaikan sejumlah masalah teknis, termasuk gangguan pada sistem penghentian penerbangan dan suhu baterai di kapsul Orion, tanpa harus menunda peluncuran.
Setelah berada di orbit tinggi bumi selama satu hingga dua hari untuk pengecekan sistem, kapsul Orion akan melakukan manuver penting menuju bulan. Perjalanan ini akan membawa kru melintasi sisi belakang bulan sebelum kembali ke bumi dengan memanfaatkan gravitasi bulan dan bumi.
Dalam perjalanan pulang, astronaut akan melakukan berbagai pengujian lanjutan sebelum kapsul Orion masuk kembali ke atmosfer dengan kecepatan sekitar 40.233 km per jam dan mendarat di Samudra Pasifik.
Misi Artemis II disebut sebagai tonggak baru dalam eksplorasi luar angkasa, terutama bagi generasi yang tidak mengalami era Apollo.
“Ada banyak orang yang tidak mengingat Apollo. Ada generasi yang bahkan belum lahir saat Apollo diluncurkan. Ini adalah Apollo mereka,” kata kepala misi sains NASA, Nicky Fox.