Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menegaskan, normalisasi sungai di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi prioritas utama dalam pemulihan jangka panjang. Hal ini juga mendukung sektor pertanian dan perikanan yang bergantung pada irigasi sungai.
Kasatgas PRR Tito Karnavian mengatakan, normalisasi sungai sangat penting untuk kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekonomi primer, seperti pertanian dan perikanan. “Sungai terdampak bencana hidrometeorologi mayoritas mengalami pendangkalan akibat sedimentasi,” ujar Tito.
Menurut data Satgas PRR, puluhan sungai di tiga provinsi terdampak bencana, dengan kondisi bervariasi, seperti sedimentasi berat, kerusakan tanggul, dan perubahan alur sungai. Di Aceh, tercatat 55 sungai yang terdampak, sementara di Sumatera Utara ada 48 sungai, dan di Sumatera Barat 43 sungai. Semua membutuhkan penanganan bertahap.
Tito menjelaskan, penanganan sungai dilakukan melalui dua pendekatan utama: tanggap darurat untuk mencegah dampak lebih lanjut dan rehabilitasi permanen. Penanganan sungai yang tersebar di wilayah terdampak menjadi tantangan, namun Satgas PRR terus memastikan progres pemulihan di sektor lain seperti jalan dan distribusi logistik, yang mendukung normalisasi sungai.
Pemulihan pascabencana diukur tidak hanya dari jumlah pengungsi yang berkurang, tetapi juga kemampuan wilayah untuk kembali aman dan produktif. "Sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya menjadi bagian penting dari pemulihan," tegas Tito.