Keputusan Standard & Poor's (S&P) Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil dinilai menjadi sinyal kuat bahwa fundamental ekonomi nasional masih mendapat kepercayaan dari pasar global.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, afirmasi tersebut tidak hanya mempertahankan status investment grade, tetapi juga menunjukkan keyakinan lembaga pemeringkat internasional terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, mengatakan keputusan S&P memberikan pesan positif bagi perekonomian dan pasar modal Indonesia.
"Afirmasi rating Indonesia oleh S&P Global Ratings menjadi sinyal penting bagi perekonomian dan pasar modal Indonesia. Di tengah tekanan fiskal, volatilitas nilai tukar, dan dinamika global yang tidak ringan, keputusan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga," kata David dalam keterangannya, Rabu (15/7).
Menurut David, outlook stabil diberikan karena S&P melihat prospek pemulihan penerimaan negara, membaiknya ekspor seiring kenaikan harga komoditas, serta komitmen pemerintah menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Ia menilai keputusan tersebut juga menjadi sentimen positif bagi pasar modal karena membantu menjaga persepsi risiko Indonesia di mata investor internasional.
Meski demikian, David mengingatkan bahwa kepercayaan tersebut harus dijaga melalui kebijakan fiskal yang kredibel, komunikasi pemerintah yang konsisten, serta implementasi kebijakan yang dapat diprediksi.
"Indonesia masih dipercaya, tetapi kepercayaan itu harus terus dibuktikan. Pasar modal masih memiliki prospek, tetapi prospek itu harus diperkuat dengan kepastian kebijakan dan kualitas komunikasi yang lebih baik," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi. Menurutnya, laporan S&P juga menunjukkan adanya keyakinan terhadap reformasi fiskal yang sedang dijalankan pemerintah, termasuk pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Fithra menilai DSI berpotensi menjadi sumber baru penerimaan negara sekaligus memperkuat ketahanan fiskal dan sektor eksternal melalui pengelolaan ekspor komoditas yang lebih optimal.
"DSI tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai mekanisme konsolidasi ekspor, melainkan juga sebagai mesin penggerak penerimaan negara (revenue engine) yang berpotensi memperluas basis fiskal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kenaikan tarif pajak maupun penambahan utang publik," ujarnya.
Ia menambahkan, apabila dikelola secara transparan, akuntabel, dan efisien, DSI berpotensi meningkatkan penerimaan negara bukan pajak, memperkuat cadangan devisa, meningkatkan ketahanan sektor eksternal, serta memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pembiayaan pembangunan.
Namun demikian, Fithra menekankan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut akan bergantung pada implementasi, tata kelola yang kuat, transparansi, akuntabilitas, dan koordinasi dengan pelaku usaha.
Indikator ekonomi yang dinilai positif
Dalam laporannya, S&P menyebut sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang solid sehingga mendukung dipertahankannya outlook stabil.
Lembaga tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Pertumbuhan riil diperkirakan mencapai 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% sepanjang 2026–2029.
S&P juga menyoroti pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 yang mencapai 5,6% secara tahunan, didorong oleh peningkatan belanja pemerintah dan percepatan realisasi anggaran.
Di sektor fiskal, komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3% PDB dinilai menjadi jangkar utama stabilitas ekonomi. Selain itu, penerimaan negara tercatat tumbuh 19% dalam lima bulan pertama 2026 berkat perbaikan administrasi perpajakan, peningkatan penerimaan PPN, serta kenaikan royalti dan dividen dari sektor sumber daya alam.
S&P juga menilai reformasi tata kelola sektor sumber daya alam, termasuk pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia dan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), berpotensi meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperkuat posisi eksternal Indonesia.
Selain itu, independensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter, inflasi yang tetap terkendali, fleksibilitas nilai tukar, serta kondisi sistem keuangan yang sehat turut menjadi faktor pendukung penilaian positif tersebut.
Dengan berbagai indikator tersebut, keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia dinilai memperkuat keyakinan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap solid dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif di tengah tantangan global.