logo alinea.id logo alinea.id

Dampak elektoral bergabungnya Yusril ke kubu Jokowi-Maruf

Yusril diyakini akan memberi pengaruh elektoral pada Jokowi-Maruf meski tak terlalu signifikan.

Robi Ardianto
Robi Ardianto Rabu, 07 Nov 2018 14:29 WIB
Dampak elektoral bergabungnya Yusril ke kubu Jokowi-Maruf

Keputusan pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra, untuk menjadi pengacara pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres) Jokowi-Maruf Amin, diyakini memberi pengaruh elektoral pada pasangan calon (paslon) nomor urut 01. Terlebih Yusril merupakan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB).

"Sedikit banyak pasti ada pengaruhnya, hanya saja seberapa besar, kami harus lihat faktanya nanti dilapangan," kata Ace saat berbincang dengan reporter Alinea.id, Rabu (7/11).

Menurut Ace, selama ini sosok Yusril dikenal sebagai tokoh yang selalu berseberangan dengan Presiden Joko Widodo. Namun Yusril juga dikenal merupakan sosok yang dekat dengan kalangan umat Islam.

"Sehingga diharapkan bisa membantu dalam menghapus citra pak Jokowi yang anti terhadap umat," jelas Ace.

Kehadiran Yusril, dia melanjutkan, bisa menjadi aspek penting untuk menetralisasi sejumlah daerah, yang masih memiliki prasangka negatif terhadap Jokowi.

Direktur Eksekutif Populi Center, Usep S Ahyar, memiliki pandangan serupa. Menurutnya, meskipun merapat secara profesional sebagai kuasa hukum Jokowi-Maruf, namun Yusril punya pengaruh elektoral terhadap Paslon Jokowi-Maruf.

"Tapi saya kira ini tidak akan berpengaruh banyak, yang sampai menyebabkan tsunami elektoral. apalagi PBB bukan partai besar," kata Usep kepada reporter Alinea.id.

Sebaliknya, menurut dia, PBB dan Yusril justru akan menjadi pihak yang lebih diuntungkan karena bergabung dengan kubu Jokowi-Maruf.

Sponsored

Disisi lain, Usep memperkirakan, PBB akan mengalami gejolak internal karena keputusan Yusril tersebut. Gejolak tersebut, muncul terutama dari caleg yang anti terhadap Jokowi.

Usep juga mengatakan, keputusan Yusril untuk merapat ke kubu Jokowi, akan menjadi senjata bagi paslon Prabowo-Sandi. Sebab Yusril merupakan pengacara dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang selalu mengkritik pemerintahan Jokowi.

Sementara itu, CEO dan Founder Alvara Research, Hasanuddin Ali, menilai keberadaan Yusril tidak akan terlalu berpengaruh signifikan kepada Jokowi-Maruf.

"Saya kira dampaknya tidak akan terlalu berpengaruh signifikan terhadap Jokowi-Kiai Maruf Amin, karena basis pemilih PBB sangat kecil," katanya kepada reporter Alinea.id.

Sikap PBB

Wakil Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Jurhum Lantong, sebelumnya mengatakan keputusan Yusril menjadi pengacara Jokowi-Maruf, merupakan keputusan pribadi. Keputusan tersebut, kata dia, tak berhubungan dengan sikap politik PBB.

"Pak Yusril kan pengacara. Selama ini jadi pengacara HTI tidak diributkan, jadi pengacara buruh, pengacara habib tidak diributkan. Itu kan profesi Pak Yusril sebagai pengacara. Pengacara kan tidak boleh menolak, pilih-pilih kasus. Jadi itu ya biasa saja. PBB baik-baik saja," kata Jurhum Lantong dikutip dari Antara.

Menurutnya, harus dibedakan sikap Yusril sebagai seorang pengacara, dan sebagai Ketua Umum PBB. Jurhum menegaskan, PBB hingga saat ini belum memutuskan pada pihak mana akan memberikan dukungan di Pilpres 2019 mendatang. 

"Kita masih menunggu rakornas awal Desember nanti, di Jakarta. Sebagai partai, tentunya sesuai prosedur organisasi. Saat ini juga ada individu yang mendukung Pak Prabowo, ada yang mendukung Pak Jokowi. Tapi nanti tetap keputusan partai, melalui rakornas," katanya.