close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustasi kapal selam/Pixabay
icon caption
Ilustasi kapal selam/Pixabay
Politik
Kamis, 22 April 2021 13:57

KRI Nanggala hilang kontak, anggota DPR: Terlalu mahal nyawa TNI

Politikus PKS Sukamta sayangkan peristiwa hilangnya kapal selam KRI Nanggala-402.
swipe

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta menyampaikan, musibah yang menimpa KRI Nanggala-402 menjadi momentum evaluasi bersama terhadap alutsista. Dia secara khusus mendorong pemerintah untuk melakukan pembaharuan dan peremajaan alutsista pertahanan Indonesia.

"Selain untuk menjaga kedaulatan Indonesia, tujuan lainnya ialah agar tidak lagi terjadi kecelakaan-kecelakaan akibat alutsista Indonesia bermasalah sehingga ketika di operasikan menimbulkan korban jiwa. Terlalu mahal harga nyawa Anggota TNI kita," kata Sukamta kepada Alinea.id, Kamis (22/4).

Sukamta mengaku prihatin dan menyayangkan peristiwa hilangnya KRI Nanggala-402, apalagi terjadi pada saat latihan. Pernyataan Sukamta ini cukup beralasan. Secara resmi Kapal KRI Nanggala-402 menjadi bagian dari alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia sejak tahun 1981.

Kapal selam ini merupakan satu dari dua kapal selam tua buatan industri Howaldt Deutsche Werke (HDW), Kiel, Jerman Barat. "Apalagi negara berkewajiban melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Jangan mereka menjadi korban akibat kelalaian peremajaan alutsista kita, justru di saat saat latihan," kata dia.

Di sisi lain, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia berdoa untuk keselamatan awak KRI Nanggala 402.

"Mari kita berdoa kepada Tuhan YME berdoa untuk keselamatan awak dan kapal selam KRI Nanggala 402. Tidak ada yang tidak mungkin untuk Tuhan memberikan keajaiban kepada hamba-Nya. Apalagi saat ini bulan Ramadhan, doa-doa hamba yang beriman di dengar oleh Tuhan YME,” harap anggota Fraksi PKS DPR RI yang membidangi bidang pertahanan ini.

Soal kondisi terakhir KRI Nanggala-402, Sukamta mengajak berbagai pihak untuk bersabar menunggu berita resmi dari TNI, supaya tidak terjadi spekulasi.

"Sebaiknya kita tunggu kabar resmi dari TNI, kasihan para keluarga dari Anggota TNI yang berada di kapal tersebut. Sebaiknya dihindari spekulasi spekulasi," katanya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Achmad Riad mengatakan informasi yang menyebutkan KRI Nanggala-402 sudah ditemukan 21 jam lalu tidak bisa dijadikan dasar. Pernyataan Riad tersebut merespons laporan KRI Raden Eddy Martadinata (331) yang menyebutkan telah terdeteksi pergerakan di bawah air.

"KRI Raden Eddy 331 melaporkan secara lisan telah terdeteksi pergerakan di bawah air dengan kecepatan 2,5 not, kontak tersebut kemudian hilang sehingga masih tidak cukup data untuk mengidentifikasi kontak dimaksud sebagai kapal selam," kata Achmad Riad dalam konferensi pers, Kamis (22/4).

Diketahui, KRI Nanggala-402 hilang kontak saat sedang melaksanakan latihan penembakan senjata strategis di perairan Bali, Rabu pagi. Kapal tersebut akan melaksanakan penembakan torpedo SUT meminta izin menyelam pada pukul 03.00 WIB.

Kapal nahas tersebut  telah dioperasikan TNI Angkatan Laut sejak 1981. Ketika kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak, posisi terakhir terdeteksi berada pada kedalaman 600-700 meterdi perairan Bali, Rabu (21/4) pagi.

Kapal selam KRI Nanggala-402 membawa 53 orang, terdiri dari 49 anak buah kapal, 1 komandan kapal, dan 3 orang artileri senjata angkatan laut dalam uji coba latihan tersebut. Indonesia telah meminta bantuan dari Singapura dan Australia dalam pencarian KRI Nanggala-402 ini.

img
Marselinus Gual
Reporter
img
Fathor Rasi
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan