sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sandiaga Uno kembali ke Gerindra demi kursi menteri Jokowi?

Tiba-tiba saja mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno mengumumkan kembali ke Partai Gerindra.

Fadli Mubarok Marselinus Gual
Fadli Mubarok | Marselinus Gual Selasa, 15 Okt 2019 19:20 WIB
Sandiaga Uno kembali ke Gerindra demi kursi menteri Jokowi?

Tiba-tiba saja mantan Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno mengumumkan kembali ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pengumuman yang diunggah di media sosialnya itu dilakukan lima hari menjelang pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin.

Seperti seorang Superman yang tengah berganti kostum, Sandi membuka batik mega mendung khas Cirebon dengan kaus bertuliskan Gerindra. Sontak, rumor berhembus kencang bahwa mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu akan menduduki kursi menteri di kabinet Jokowi-Amin.

Rumor itu muncul lantaran Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra Prabowo Subianto tengah gencar bersafari ke sejumlah parpol pendukung Jokowi-Amin. Prabowo juga sempat bertemu empat mata dengan Jokowi di Istana Negara pekan lalu.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani membantah kepulangan Sandiaga Uno berkaitan dengan isu menjadi salah satu menteri dari Gerindra dalam kabinet Presiden Jokowi Jilid II.

Menurut Muzani, keputusan kembali ke Gerindra merupakan hak politik Sandiaga. Muzani dengan tegas menyatakan Gerindra menyambut Sandiaga dengan lapang dada.

"Enggak. Begini, Pak Sandi punya hak politik pribadi yang kami tidak bisa campuri. Terserah beliau, setelah menyatakan keluar dari Gerindra, silakan dan kami hormati. Dan kemudian kembali lagi, silakan," kata Muzani usai mendampingi Ketum Prabowo Subianto bertemu Ketum Golkar Airlangga Hartato di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (15/10).

Menurut Muzani, Gerindra tetap memberikan posisi kepada Sandiaga di kepengurusan partai. Jabatan Sandi nantinya merupakan wewenang Prabowo sebagai Ketua Umum Gerindra.

"Soal jabatan, itu terserah Pak Prabowo," ujar dia.

Sponsored

Lebih lanjut Muzani mengatakan, Sandiaga akan hadir dalam rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Gerindra yang digelar di Hambalang, Jawa Barat, Rabu (16/10) besok. Rapimnas akan menentukan sikap politik Prabowo, apakah masuk atau berada di luar kabinet Jokowi.

"Jadi dia bersama relawan yang kerja keras di Pilpres 2019 akan ikut Rapimnas," pungkas Muzani.

Sebelumnya, Tenaga Ahli Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin menyebut bahwa Partai Gerindra dan Demokrat dipastikan masuk dalam kabinet Jokowi. Namun demikian, Ngabalin belum memastikan beberapa kursi yang akan diberikan Jokowi kepada dua partai yang kerap mengkrtisnya selama 5 tahun belakangan.

Sandiaga menjadi salah satu calon menteri yang disebut-sebut telah dipersiapkan Prabowo masuk dalam kabinet Jokowi. Dua lainnya ialah Wakil Ketua Umum Edhy Prabowo dan Fadli Zon.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Andre Rosiade membenarkan kabar kembalinya Sandiaga Uno masuk ke dalan partai besutan Prabowo Subianto tersebut.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Alinea.id, dia mengatakan momentum Konfernas Partai Gerindra yang dilangsungkan esok hari di Hambalang merupakan peresmian bergabungnya kandidat wakil presiden 2019 tersebut.

"Ya, Insya Allah besok Rakernas Partai Gerindra tanggal 16 Oktober 2019 di Hambalang akan menjadi momentum Bang Sandi untuk kembali bergabung dengan Partai Gerindra," terang Andre.

Kepastian bergabungnya kembali Sandiaga ke Partai Gerindra telah resmi dikatakan Sandiga ke jajaran kader partai pada Senin (14/10) malam. Andre bercerita, malam tadi ia dan juru bicara Prabowo Subianto, Dahnil Azhar Simanjuntak, beserta beberapa kader lainnya menemui Sandiaga di kediaman dia. 

Dalam pertemuan tersebut, Sandiaga mengatakan akan kembali dan berjanji akan hadir dalam Konfernas Partai Gerindra. Bahkan, Sandi mengurungkan rencananya untuk pergi ke Turki lantaran agenda tersebut.

"Pekan ini beliau harus ke Turki. Karena ada Konfernas Partai Gerindra beliau menunda perjalanan ke Turki dan berjanji akan datang. Kami pastikan beliau datang dengan pakaian resmi baju putih, kantong empat dan celana krem," tegas Andre.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) usai melakukan pertemuan di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (15/10). / Antara Foto

Lobi-lobi politik Gerindra

Sementara itu, pengamat politik sekaligus Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menduga manuver yang dilakukan Prabowo Subinto dengan cara membangun komunikasi dengan partai koalisi pemerintah lantaran sebelumnya banyak partai koalisi yang tidak setuju untuk Partai Gerindra bergabung.

Menurutnya, keadaan itu sulit dipungkiri melihat resistensi yang nampak di beberapa partai koalisi, utamanya PKB, Partai NasDem, dan Partai Golkar. Melihat keadaan itu, maka tidak ada jalan pilihan untuk Prabowo kecuali melangsungkan silaturahmi atau komunikasi politik.

"Ya kita lihatlah. Awalnya kan tidak bisa dipungkiri ketidaknyamanan itu sudah nampak di antara partai koalisi sebelumnya. Karena dia persepsi mereka kan buat apa merangkul lawan poitik nanti malah bisa mengurangi jatah kursi," kata Karyono secara terpisah di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Kendati demikian, dalam menentukan jatah kursi kabinet tetap harus melewati hak prerogatif Jokowi selaku presiden terpilih. Hal tersebut telah diatur dalam Undang-Undang (UU), bahwa untuk mengangkat posisi menteri, presiden memiliki kewenangan dan kekuasaan.

Oleh karena itu, lanjut Karyono, partai koalisi, mau tidak mau, harus menyadari otoritas tersebut. Hanya saja komunikasi politik perlu dilakukan agar ada kesepakatan yang mendasar.

"Semuanya perlu dilakukan memang oleh Gerindra agar everybody happy," terangnya.

Namun demikian, ia menyebut peluang bergabungnya Partai Gerindra menjadi koalisi pemerintahan sudah amat besar. Ia membaca Partai Gerindra seperti sedang melakukan eksperimen politik baru dengan bergabung menjadi partai pendukung pemerintah.

Mereka mengubah pakem politik lama, di mana selama tiga periode Partai Gerindra berada di luar koalisi pemerintah. Jika Partai Gerindra tetap memilih pakem tersebut, yang mereka dapat hanyalah elektabikitas.

"Tapi Partai Gerindra juga punya konsekuensi jika dia memang memilih bergabung. Jika pemerintah gagal melangsungkan kebijakan pembangunan yang pro rakyat, justru ini kerugian bagi Partai Gerindra," tegas dia.

Sebaliknya, jika pemerintah berhasil menjalankan pembangunan berdasarkan keinginan rakyat, maka mereka akan mendapatkan manfaat politik yang positif. "Meski itu terdistribusi," sambungnya.

Lebih jauh, bergabungnya Partai Gerindra ke koalisi pemerintah dinilai akan mengurangi jatah kursi jabatan yang akan diterima oleh partai pengusung Jokowi-Amin.

"Yang timbulkan resistensi kan alasan yang paling menonjol adalah bisa kurangi jatah kursi [yang diterima partai koalisi]," katanya.

Untuk diketahui, Prabowo Subianto belakangan ini tengah gencar melakukan safari politik. Sebelumnya Prabowo sowan ke PDI Perjuangan, PKB, Partai Nasdem, serta ke Presiden Joko Widodo. Bahkan, hari ini (15/10/2019) Prabowo berkunjung ke Partai Golkar.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

SAYA KEMBALI :)

Sebuah kiriman dibagikan oleh Sandiaga Salahuddin Uno (@sandiuno) pada