Industri truk nasional tertekan impor China. Penjualan 2025 turun 10%, pelaku industri dorong evaluasi aturan impor dan standar emisi.
Industri kendaraan niaga berat sepanjang 2025 menghadapi tekanan cukup berat. Gempuran truk impor buatan China membuat penjualan truk nasional mengalami penurunan. Berdasarkan data retail sales Gaikindo, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 59.303 unit truk dikirim ke pelanggan. Jumlah tersebut setara 7,1% dari total pasar mobil nasional. Dibandingkan tahun sebelumnya, kinerja retail sales tercatat minus 10%.
Tekanan ini kian terasa karena truk impor asal China datang dengan komponen yang sudah lengkap, sehingga tidak perlu dirakit di karoseri lokal.
Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) Sommy Lumajeng menilai banjirnya truk dan bus impor China mendapat karpet merah dari pemerintah. Bus dan truk asal China bahkan disebut mendapat jaminan dari BKPM melalui produk tambang. Padahal, banyak komponen truk dan bus tersebut sebenarnya sudah tersedia dan diproduksi di dalam negeri.
"Karena produk yang diimpor itu sudah ada diproduksi juga di dalam negeri (terutama karoseri sudah ada). Kalau pemerintah bisa melarang barang-barang modal yang sudah ada di Indonesia, mungkin akan lebih menarik untuk industri lokal, dan menjadikan serta memacu lapangan kerja RI," kata Sommy, Selasa (27/1),
Selain itu, Sommy menyoroti standar emisi truk impor China yang rata-rata masih Euro II. Sementara sejak 2021, truk yang beredar di Indonesia telah diwajibkan memenuhi standar Euro IV.