sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kisah marga keturunan Belanda Depok: Dari silsilah hingga wacana cagar budaya

Ada 12 marga dari budak yang dimerdekakan tuan tanah Cornelis Chastelein, yang membangun Depok.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Selasa, 23 Nov 2021 06:36 WIB
Kisah marga keturunan Belanda Depok: Dari silsilah hingga wacana cagar budaya

Sore itu, Chandra Loen, 17 tahun, tengah asyik bermain ayunan berbahan ban bekas di tepi Sungai Ciliwung, dekat Jembatan Panus, Jalan Tole Iskandar, Kota Depok, Jawa Barat. Jembatan yang melintasi Sungai Ciliwung, menghubungkan Bogor dan Jakarta itu dibangun pada 1917 oleh seorang insinyur Belanda bernama Andre Laurens. Nama Panus sendiri berasal dari Stevanus Leander, seorang warga yang dahulu tinggal di dekat jembatan itu.

Jembatan Panus adalah satu dari sejumlah bangunan lama peninggalan kolonial. Menurut Chandra, di kawasan yang kini disebut Depok Lama itu terdapat cukup banyak bangunan peninggalan Belanda.

“Di sini juga ada Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel di Jalan Pemuda,” kata Chandra kepada Alinea.id, Kamis (18/11).

Namun, Chandra mengaku tak tahu banyak mengapa ada bangunan-bangunan warisan kolonial di kawasan Depok Lama. Dari orang tuanya, ia hanya tahu dahulu di kawasan itu ada tempat tinggal Cornelis Chastelein.

“Yang dulu punya daerah sini,” ucapnya.

Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein di Jalan Pemuda, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (18/11/2021). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin.

Sejarawan Kota Depok Ferdy Jonathans mengatakan, Cornelis Chastelein adalah seorang tuan tanah asal Belanda yang juga mantan petinggi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)—sebuah Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda, 1602-1799. Keberadaan bangunan sisa kolonial di Depok Lama, kata Ferdy, erat kaitannya dengan Chastelein.

Rupa kawasan Depok Lama memang menyisakan bangunan bergaya arsitektur indis, yang memadukan arsitektur tropis, dengan ciri berjendela besar dan beratap agak curam. Misalnya, bangunan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) atau Rumah Sakit Harapan Depok yang bekas Gedung Gemeente (Kotapraja) di Jalan Pemuda, Pancoran Mas, Kota Depok.

Sponsored

Menurut Ferdy, Chastelein semula adalah akuntan dan saudagar VOC, yang beralih menjadi tuan tanah karena tak cocok dengan kepemimpinan Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn yang memerintah pada 1691-1704.

Setelah berhenti dari pekerjaannya di VOC, Chastelein serius menekuni bidang pertanian. Ia membeli tanah di daerah Gambir, Batavia pada 1693, Srengseng pada 1695, Mampang pada 1696, dan Depok pada 1696.

Untuk menggarap tanah seluas 1.244 hektare di Depok, Chastelein membeli 150 budak dari Bali, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jawa, dan India. Ketika Chastelein meninggal dunia pada 28 Juni 1714, ia meninggalkan surat wasiat.

“Wasiat dibacakan, yang intinya memerdekakan para budak dan memberikan seluruh tanah beserta isinya kepada mereka,” ujar Ferdy saat dihubungi, Selasa (16/11).

Gen 12 marga

Mereka yang diberikan tanah warisan Chastelein itu merupakan 12 marga utama yang menghuni kawasan Depok Lama kini. Dua belas marga tersebut, antara lain Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Pewaris marga ini kemudian dikenal dengan sebutan Belanda Depok.

Ferdy sendiri merupakan keturunan dari marga Jonathans. Menurut dia, saat ini sudah mulai ada marga yang terancam punah lantaran bercampur dengan suku lain lewat pernikahan. Zadokh misalnya, sudah “punah”.

“Karena mereka nikah antarsuku, seperti (dengan orang) Bali dan Makassar,” kata Ferdy.

Ia menjelaskan, nasab 12 marga itu hanya diturunkan lewat laki-laki alias patrilineal. Sehingga, perempuan yang menikah dengan marga luar dianggap putus secara genealogi.

“Saat ini diperkirakan ada 3.000 jiwa warga Depok yang menyandang nama marga dari 12 marga. Belum yang di luar (Depok),” ucap dia.

Salah seorang sesepuh marga Leander, yakni Luis Aadrian Leander atau Luki Leander mengatakan, 12 marga di Depok itu punya sejarah panjang dan kompleks. Para keturunan 12 marga itu telah melewati proses pembauran yang panjang hingga hidup berdampingan dengan etnis lain yang ada di Depok.

Pria berusia 81 tahun yang masih fasih berbahasa Belanda itu menuturkan, saat ini hanya ada dua marga yang dominan, yakni Loen dan Leander. Lainnya mulai sedikit, seperti Joseph. Luki mengaku tak tahu ia generasi ke berapa dari marga Leander. Sebab, silsilah marganya tak tercatat dengan baik.

Namun, ia berusaha menyusun silsilah Leander sejak 1980-an hingga sekarang. Berdasarkan catatannya, kini ada sekitar 200 kepala keluarga Leander yang tinggal di Depok.

Sungai Ciliwung dan pemandangan Depok lama pada 1900./ Foto collectie.wereldculturen.nl

“Bisa lebih, kalau sama yang di luar Depok atau luar negeri,” ucap Luki, Kamis (18/11).

Berto, pewaris marga Loen mengatakan, marganya paling dominan di kawasan Depok Lama. Bahkan, ia menyebut, pewaris marga Loen tak semua saling kenal lantaran saking banyaknya keturunan marga ini.

“Karena beda-beda jalurnya, walaupun sama-sama Loen,” ujar Berto, Kamis (18/11).

Meski begitu, pria berusia 63 tahun itu mengatakan silsilah Loen tak terlacak sempurna. “Jadi, saya juga enggak tahu generasi ke berapa,” tuturnya.

Berto mengatakan, ia tinggal di atas tanah milik keluarga Loen yang diwariskan Chastelein. “Tapi sudah banyak yang dijual sama orang luar,” ucapnya.

Ia mengaku, banyak pula anggota keluarga Loen yang memeluk agama selain Protestan lantaran berbaur dengan suku dan etnis lainnya.

Layaknya Luki dan Berto, Herman pun tak paham ia generasi ke berapa dari nasap Soedira. Sebab, orang tuanya tak pernah menjelaskan secara rinci seluk-beluk marga Soedira.

“Pokoknya saya lahir sudah pakai nama Soedira,” kata Herman, Kamis (18/11).

Yang ia tahu, marga Soedira banyak bermukim di wilayah Margonda dan sekitarnya. “Kalau di Pancoran Mas agak jarang Soedira,” ujar Herman.

Luki mengisahkan, kaum Belanda Depok pernah mengalami masa kelam usai proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Menurut sejarawan Wenri Wanhar dalam bukunya Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 (2011), setelah proklamasi kemerdekaan berkumandang di Jakarta, Depok belum mengakuinya. Lalu, wilayah itu diserbu laskar rakyat. Huru-hara yang dikenal sebagai Gedoran Depok itu meletus pada 11 Oktober 1945.

Orang Depok ditawan dan dipaksa membawa bendera Merah-Putih. Bagi yang melawan, dihabisi. Luki mengenang, ketika masa Bersiap itu, masyarakat Belanda Depok banyak yang mengalami persekusi karena dianggap antek Belanda.

"Saya sampai harus mengungsi ke Bogor untuk menghindari kengerian itu," kata Luki.

“Umur saya masih lima tahun saat itu, saya menyaksikan banyak tentara Republik ke sini.”

Ia mengatakan, situasinya mulai mereda pada akhir 1970-an. “Pelan-pelan, kami kembali baik. Kami bisa hidup berdampingan dengan damai,” kata Luki.

Rencana cagar budaya

Keluarga Eropa berlibur di Depok pada 1930./Foto collectie.wereldculturen.nl

Pada Kamis (11/11) Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns mengunjungi kawasan Depok Lama. Dilansir dari Antara, Kamis (11/11), ia sempat bertemu Wali Kota Depok Mohammad Idris, pihak Universitas Indonesia (UI), dan generasi ke-10 Chastelein. Tujuan kedatangan sang dubes adalah menjajaki pengembangan kawasan Depok Lama sebagai daerah cagar budaya dan wisata sejarah.

Grijns menambahkan, di Kota Den Haag, Belanda juga tengah diadakan pameran tentang Depok dan buku-buku orang Belanda Depok, yang bertujuan membawa turis Belanda ke Depok.

Meski kunjungan Grijns belum membahas terkait adanya pemberian bantuan dana untuk restorasi kawasan Depok Lama, wacana ini pun ditanggapi beragam oleh para pewaris marga orang Depok.

Luki, yang punya memori kelam Gedoran Depok, berharap rencana itu tak ditarik ke persoalan politik masa lalu. “Sebab, saat ini semua keturunan budak Cornelis Chastelein sudah nasionalis dan hidup harmonis dengan masyarakat lainnya,” ujar Luki.

Sementara Berto menyatakan setuju bila kawasan Depok Lama ingin dijadikan daerah cagar budaya dan wisata sejarah. Selama hal itu masih sejalan dengan kepentingan masyarakat di kawasan tersebut.

“Tapi saya belum tahu seperti apa konsep kawasan cagar budayanya,” ucap Berto.

Herman juga menyambut baik wacana yang diusulkan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns. "Soalnya bagus juga buat masyarakat," ucap Herman.

Infografik Alinea.id/Muji Prayitno

Pandangan berbeda dilontarkan warga dari luar keturunan marga orang Depok yang juga pembina Komunitas Ciliwung Panus, Benny. Ia menilai, rencana menjadikan Depok Lama sebagai kawasan cagar budaya dan wisata sejarah adalah lagu lama.

“Dari tahun 2017 sudah sering rencana itu bergulir, tapi tidak ada keseriusannya,” ujar Benny ketika ditemui di Jembatan Panus, Depok, Kamis (18/11).

Ia berujar, Pemkot Depok dan DPRD Depok seringkali hanya tebar pesona, seolah peduli dengan kawasan Depok Lama. Padahal, pria berusia 55 tahun itu mengatakan, banyak situs bersejarah di Depok Lama yang bernilai bila dikelola dengan baik.

“Tinggal serius apa enggak. Mereka juga kadang kurang mau melibatkan kami,” ucap Benny.

Sedangkan Ferdy berharap, rencana menjadikan kawasan Depok Lama sebagai daerah cagar budaya dan wisata sejarah tak membuat label warga dengan sebutan Belanda Depok. Alasannya, pewaris 12 marga bukanlah orang Belanda.

“Sebutan Belanda Depok hanya olok-olok saja karena dulu pada lancar berbahasa Belanda,” ujar Ferdy.

“Janganlah dibuat dengan nama Kampung Belanda Depok.”

Ia menyarankan, lebih baik dibuat daerah Kota Tua Depok Lama agar lebih memunculkan identitas Depok-nya. Ia juga meminta Pemkot Depok atau pihak lain berhenti menarik masalah politik identitas dan penjajahan bagi warga Depok Lama.

“Biarlah anak-anak belajar sejarah kotanya. Jangan tempat-tempat bersejarah dijadikan wacana politik,” ucap Ferdy.

Berita Lainnya