Indef: Konflik Rusia-Ukraina ganggu momentum pemulihan ekonomi

Masih tingginya ketegangan antara Rusia dan Ukraina diprediksi akan mengganggu momentum pemulihan ekonomi. 

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad. Foto tangkapan layar Youtube INDEF.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan diperlukan langkah antisipatif dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) guna menghadapi tekanan ekonomi global. Pasalnya, masih tingginya ketegangan antara Rusia dan Ukraina diprediksi akan mengganggu momentum pemulihan ekonomi. 

"Untuk mencegah terjadinya pemburukan kondisi ekonomi makro dan keuangan, maka diperlukan langkah-langkah antisipatif dalam APBN," ujar Tauhid, Selasa (24/5). 

Menurutnya, sepanjang 2022 sampai 2023 pemerintah perlu mempercepat realisasi belanja negara agar dapat menyumbang lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Belanja negara didorong terutama yang berkaitan dengan sektor produktif dan belanja modal.

Di sisi lain, belanja kementerian dan lembaga yang tidak produktif juga perlu dipotong pada tahun 2023.

Kemudian, mekanisme subsidi energi juga harus diubah agar lebih tepat sasaran. Sebab, harga komoditas pangan dan energi masih tinggi di tahun 2023 sebagai dampak dari konflik Rusia dan Ukraina. Akibatnya, subsidi energi yang harus digelontorkan oleh pemerintah bakal meningkat.