Screen time berlebihan pada anak dapat memicu obesitas, gangguan tidur, hingga menurunkan prestasi akademik. Simak dampak dan cara mencegahnya.
Penggunaan gadget dan perangkat digital kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Mulai dari menonton video, bermain gim, hingga menggunakan ponsel atau tablet untuk belajar, aktivitas yang melibatkan layar semakin sulit dipisahkan dari keseharian mereka. Meski teknologi dapat memberikan manfaat edukatif dan membantu proses belajar, penggunaan yang berlebihan tetap perlu mendapat perhatian orang tua.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak berusia di bawah 2 tahun sebaiknya tidak terpapar media digital, sementara anak yang lebih besar dianjurkan membatasi waktu layar hingga satu sampai dua jam per hari. Anjuran ini diberikan karena terlalu banyak screen time dapat berdampak pada kesehatan fisik, mental, hingga perkembangan sosial anak.
Temuan serupa juga diungkap dalam penelitian berjudul Impact of Digital Technologies on Health and Wellbeing of Children and Adolescents: A Narrative Review yang diterbitkan dalam New Zealand Journal of Physiotherapy. Penelitian yang dipimpin fisioterapis anak Julie Cullen tersebut menemukan bahwa penggunaan teknologi digital dalam frekuensi tinggi dan durasi yang panjang berkaitan dengan berbagai risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak serta remaja.
"Meskipun teknologi digital menawarkan peluang untuk belajar dan berbagai manfaat lainnya, penggunaan perangkat yang sering dan berkepanjangan dikaitkan dengan risiko gangguan kesehatan dan kesejahteraan anak serta remaja," kata Cullen.
Menurut Cullen, tidak ada batas pasti yang dapat digunakan untuk mendefinisikan screen time berlebihan. Namun, sebagian besar dampak negatif yang ditemukan dalam penelitian tersebut muncul pada anak dan remaja yang menggunakan perangkat digital selama dua hingga enam jam per hari.