close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Photo by Freepik / rawpixel
icon caption
Photo by Freepik / rawpixel
Sosial dan Gaya Hidup
Jumat, 04 September 2026 15:00

Sensasi dopamin di balik berburu pakaian bekas

Lebih dari sekadar mencari pakaian murah, thrifting menyajikan perburuan harta karun yang memicu kejutan dopamin di otak.
swipe

Berbelanja di toko barang bekas sering kali dimaknai sebagai aktivitas penghematan finansial. Meskipun daya tarik harga murah tidak dapat disangkal, riset dari Psychology Insider (2026) menelaah bahwa keinginan untuk tampil beda menjadi faktor kuat yang mendorong kegiatan thrifting.

Pemahaman ini melampaui pandangan sederhana tentang toko barang bekas dan bertransformasi menjadi bentuk rekreasi mental bagi kalangan muda-mudi. Ledakan hormon dopamin akibat menemukan barang langka dengan harga miring berperan sebagai sensasi utama pada pengalaman berburu barang bekas. 

Untuk memahami mengapa sensasi ini begitu kuat, kita perlu melihat bagaimana otak merespons efek ketidakpastian dalam proses pencarian tersebut. Simak lebih lanjut lansiran dari Ecodepot (03/9).

Antisipasi dan Kejutan yang Memicu Dopamin

Otak manusia pada dasarnya menyukai ketidakpastian yang berujung manis. Tidak dapat diprediksi, tapi dapat memicu dopamin, atau neurotransmiter yang berkaitan dengan kesenangan dan motivasi. Hal ini bisa terjadi ketika kamu menemukan sesuatu yang tak terduga saat berbelanja di toko barang bekas.

Tidak seperti belanja di toko ritel modern yang barangnya tertata rapi, pasar pakaian bekas justru menyajikan konsep ketidakpastian ini dan menciptakan antisipasi saat menyusuri tumpukan baju. 

Keberhasilan dalam proses menemukan pakaian bernilai tinggi dengan harga sangat murah akan membuat otak melepas hormon dopamin secara instan sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan tersebut. Menariknya, kepuasan dari kemenangan kecil ini tidak berhenti pada faktor barang belaka, tetapi juga berkaitan dengan narasi personal pemiliknya. 

Nilai Keunikan dan Keterikatan Emosional pada Barang One of a Kind

Mengenakan pakaian yang tidak mungkin sama dengan orang lain di jalan memberikan rasa percaya diri yang instan. Pakaian bekas sering kali membawa cerita, estetika, dan desain yang tidak lagi diproduksi secara massal. Keunggulan ini memberikan kepuasan emosional bagi pembeli karena mereka merasa memiliki barang yang one-of-a-kind. 

Keterikatan ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan saat membeli produk fast fashion yang bisa dimiliki oleh jutaan orang lain. Dampak psikologis yang positif ini pada akhirnya mengubah cara masyarakat modern memandang aktivitas belanja secara keseluruhan.

Penutup

Berburu pakaian bekas membuktikan bahwa gaya hidup ramah lingkungan dapat berjalan selaras dengan pemenuhan mental. Selama dilakukan dengan kontrol diri yang baik agar tidak berubah menjadi perilaku konsumtif baru, berburu pakaian bekas tetap menjadi cara cerdas untuk menyegarkan pikiran dan melepaskan penat dari rutinitas harian. 

img
Shabrina Dwi Arsa
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan