Alun-alun Yogyakarta dijual virtual, begini kata pakar

Salah satu akun twitter @ridlwandjogja mengetwit ingin membeli Alun-alun Utara.

Ilustrasi alun-alun utara Yogyakarta. Foto tangkapan layar aplikasi next earth.

Alun-alun Utara Yogyakarta belakangan ini ramai diberbincangkan karena diperjualbelikan di situs next earth. Salah satu akun twitter @ridlwandjogja, mengetwit jika mau beli Alun-alun Utara tapi sudah kedahuluan.

"Mau beli Alun-alun Utara di metaverse jebul sudah keduluan ada yang ambil," twitnya beberapa hari lalu.

Mau beli alun alun utara di metaverse jebul sudah keduluan ada yg ambil. pic.twitter.com/kKUelqkGxE — Ridlwan ꦗꦺꦴꦏꦺꦴꦮꦶ (@ridlwandjogja) January 2, 2022

Mengenai fenomena ini, Pengamat Media Sosial dari Komunikonten Hariqo Satria pun angkat bicara. Menurutnya, penjualan semacam ini akan memberikan manfaat ekonomi dalam jangka waktu empat hingga lima tahun ke depan bagi pemilik situs.

Dia mencontohkan, salah satu situs jual beli menawarkan barang-barang aneh atau langka. Tujuannya di tahap awal adalah untuk mengenalkan platform atau user-nya.

"Misalnya kayak OLX, jadi ada yang menjual sesuatu yang unik, hewan langka gitu, untuk tahap awal kenalkan platform lewat user-nya. Nanti 4-5 tahun lagi sudah menguntungkan," ujarnya kepada Alinea.id, Kamis (6/1).

Menurutnya, aksi jual beli virtual tersebut tidak merugikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara fisik. Pasalnya, tidak ada tanah dan uang yang hilang.

"Tapi ke depan secara moril saja, Alun-alun Utara sudah ada yang beli kalau di next earth," ucapnya.

Dia menjelaskan, tidak adanya kerugian fisik lantaran penjualan hanya terjadi di dunia imajiner dalam bentuk kacamata dunia internet. Artinya, di dunia nyata Alun-alun adalah milik Pemprov Yogyakarta, tapi di next earth punya orang lain.

"Di platform lain bisa jadi Alun-alun Utara milik orang lain lagi," jelasnya.

Fenomena semacam ini dia sebut masih baru, dan ke depan akan menjadi biasa saja. Artinya orang akan menjual tempat-tempat lain seperti Istana Bogor, dan lainnya.

"Masyarakat awal tinggal di Jogja Kesultanan sangat sensitif, hak pakai kalau di sana ya, makanya akan ramai dan menjadi viral, padahal Alun-alun virtual," tuturnya.