Waspadai hujan lebat usai super blue blood moon

Hal ini disebabkan posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Akibatnya, suhu udara di selatan lebih tinggi dibandingkan utara.

Cuaca ekstrem di Jawa Timur. (foto: Antara)

Fenomena langka diprediksi bakal menutup Januari 2019. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Rabu 31 Januari, besok akan terjadi Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total. Pada peristiwa itu, matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. Momen ini terjadi lebih dari 100 tahun sekali di Amerika dan 36 tahun sekali di Indonesia

Meski demikian, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat untuk mewaspadai tinggi pasang maksimun hingga mencapai 1,5 meter. Hal tersebut karena adanya gravitasi bulan dengan matahari.

“Fenomena ini pun juga mengakibatkan surut minimum mencapai -100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di pesisir, Sumatera Utara, Barat, Sumatera Barat, selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat,” terang Dwikorita, Selasa (30/1).

Tak hanya itu, Dwikorita menyebut tinggi pasang maksimum ini akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir. Aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di Pelabuhan dianggap juga bakal terkena dampak dari fenomena Supermoon.

Sedangkan berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan melanda Indonesia hingga 3 Februari mendatang. Hal ini disebabkan posisi matahari berada di belahan bumi selatan. Akibatnya, suhu udara di belahan bumi selatan lebih tinggi dibandingkan belahan bumi utara.