close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pembangunan dapur garam permanen untuk petambak di Kabupaten Aceh Utara, Aceh. dok. Satgas PRR
icon caption
Pembangunan dapur garam permanen untuk petambak di Kabupaten Aceh Utara, Aceh. dok. Satgas PRR
Peristiwa
Jumat, 30 Oktober 2026 19:55

186 dapur garam permanen dibangun, pulihkan mata pencaharian petambak Aceh Utara

Program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut menyasar pemulihan fasilitas produksi yang rusak sekaligus mendukung kebangkitan pendapatan keluarga petambak.
swipe

Pembangunan 186 dapur perebusan garam permanen di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, dipercepat agar petambak terdampak bencana dapat kembali berproduksi.

Program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut menyasar pemulihan fasilitas produksi yang rusak sekaligus mendukung kebangkitan pendapatan keluarga petambak.

Kepala Dinas Perikanan Aceh Utara Syarifuddin mengatakan dapur perebusan tersebut tersebar di empat kecamatan. Salah satu lokasi pembangunannya berada di Desa Teupin Kuyun, Kecamatan Seunuddon, yang mendapatkan dukungan sebanyak 53 unit.

Di desa tersebut, dapur permanen dibangun dengan ukuran 4 × 6 meter untuk menggantikan fasilitas lama yang tidak dapat digunakan lagi. Bangunan yang lebih memadai diharapkan mendukung petambak mengolah garam dan meningkatkan hasil produksi setelah aktivitas mereka terganggu akibat bencana.

“Harapan kita tentunya dengan besaran dapur tungku perebusan, akan tentunya akan meningkatkan hasil,” kata Syarifuddin.

Perbaikan fasilitas juga menjadi kesempatan meningkatkan kualitas garam rakyat. Dinas Perikanan Aceh Utara mendorong peningkatan kadar natrium klorida atau NaCl dari sekitar 94 persen menjadi di atas 96 persen agar nilai jual produk petambak dapat meningkat.

Menurut Syarifuddin, harga garam di tingkat petambak saat ini berkisar Rp6.000–Rp7.000 per kilogram. Peningkatan mutu diharapkan memperkuat daya saing produk sekaligus membuka peluang pengembangan pasar secara bertahap.

“Tapi ke depan kalau ini bisa kita kembangkan saya kira tidak tertutup kemungkinan bahwa garam kita juga bisa kita hasilkan untuk kebutuhan industri dan farmasi,” ujarnya.

Seluruh dapur perebusan ditargetkan rampung pada Desember 2026 apabila kondisi cuaca mendukung. Penyelesaian fasilitas tersebut menjadi penting bagi petambak yang masih menunggu kesempatan kembali bekerja setelah kehilangan sarana produksi.

Harapan itu disampaikan Abdullah, petambak garam di Desa Teupin Kuyun. Dapur perebusan miliknya hancur akibat bencana hidrometeorologi pada November 2025 sehingga mata pencahariannya terhenti. Kini, ia menantikan selesainya bangunan permanen agar dapat kembali menjalankan usaha.

“Alhamdulillah ada bantuan untuk kami semua petambak garam. Sudah lama tidak bekerja selama banjir,” kata Abdullah.

img
Tim copywriter
Reporter
img
Tim copywriter
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan