Filipina tetapkan darurat energi akibat perang Iran-AS yang ganggu pasokan minyak global dan picu lonjakan harga BBM di dalam negeri.
Pemerintah Filipina menetapkan status darurat energi nasional menyusul dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga bahan bakar. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan, keputusan tersebut diambil karena adanya ancaman segera terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi di negaranya.
Dilansir dari BBC, Rabu (25/3) penetapan status darurat ini menjadikan Filipina sebagai negara pertama yang mengambil langkah tersebut sejak konflik di Timur Tengah memanas, termasuk akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat Filipina rentan. Sekitar 98% kebutuhan minyak negara itu dipasok dari kawasan Teluk. Sejak perang pecah pada 28 Februari, harga solar dan bensin di Filipina dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat.
Marcos menjelaskan, kebijakan darurat ini memberikan dasar hukum bagi pemerintah untuk mengambil langkah cepat dalam menjaga stabilitas energi dan melindungi perekonomian nasional. Pemerintah juga telah membentuk komite khusus yang bertugas mengawasi distribusi bahan bakar, pangan, obat-obatan, serta kebutuhan pokok lainnya.
Selain itu, pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pembelian langsung bahan bakar dan produk minyak guna memastikan ketersediaan pasokan di dalam negeri. Dalam konferensi pers, Marcos mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Ia menyatakan pemerintah tengah mengupayakan tambahan pasokan energi dari berbagai sumber.