close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr, Foto Reuters.
icon caption
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr, Foto Reuters.
Peristiwa
Rabu, 25 Maret 2026 19:25

Krisis energi, Filipina umumkan status darurat akibat perang Iran-AS

Filipina tetapkan darurat energi akibat perang Iran-AS yang ganggu pasokan minyak global dan picu lonjakan harga BBM di dalam negeri.
swipe

Pemerintah Filipina menetapkan status darurat energi nasional menyusul dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga bahan bakar. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan, keputusan tersebut diambil karena adanya ancaman segera terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi di negaranya.

Dilansir dari BBC, Rabu (25/3) penetapan status darurat ini menjadikan Filipina sebagai negara pertama yang mengambil langkah tersebut sejak konflik di Timur Tengah memanas, termasuk akibat penutupan efektif Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi energi dunia.

Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat Filipina rentan. Sekitar 98% kebutuhan minyak negara itu dipasok dari kawasan Teluk. Sejak perang pecah pada 28 Februari, harga solar dan bensin di Filipina dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat.

Marcos menjelaskan, kebijakan darurat ini memberikan dasar hukum bagi pemerintah untuk mengambil langkah cepat dalam menjaga stabilitas energi dan melindungi perekonomian nasional. Pemerintah juga telah membentuk komite khusus yang bertugas mengawasi distribusi bahan bakar, pangan, obat-obatan, serta kebutuhan pokok lainnya.

Selain itu, pemerintah diberi kewenangan untuk melakukan pembelian langsung bahan bakar dan produk minyak guna memastikan ketersediaan pasokan di dalam negeri. Dalam konferensi pers, Marcos mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Ia menyatakan pemerintah tengah mengupayakan tambahan pasokan energi dari berbagai sumber.

Ia mengaku cukup yakin kebutuhan energi akan terpenuhi sebelum cadangan yang ada saat ini yang diperkirakan cukup untuk 45 hari.

“Kami akan memiliki aliran minyak. Bukan hanya satu atau dua pengiriman, tetapi pasokan berkelanjutan produk minyak,” kata Marcos.

Ia juga menegaskan pemerintah siap mengambil berbagai langkah untuk mengatasi krisis tersebut.

Status darurat energi ini akan berlaku selama satu tahun, kecuali diperpanjang atau dicabut lebih awal oleh presiden. Kebijakan tersebut muncul setelah sejumlah senator mendesak pemerintah mengakui kondisi darurat yang dirasakan masyarakat akibat melonjaknya harga bahan bakar. 

Sementara itu, Menteri Energi Sharon Garin menyebut Filipina saat ini memiliki cadangan energi yang cukup untuk sekitar 45 hari. Ia juga menyampaikan bahwa negara tersebut akan sementara waktu lebih mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara guna menekan biaya, seiring melonjaknya harga gas alam cair.

Secara regional, Asia menjadi kawasan yang paling terdampak oleh gangguan di Selat Hormuz. Sebagian besar distribusi minyak dan gas melalui jalur tersebut ditujukan ke negara-negara Asia, sehingga penutupan jalur ini berdampak besar terhadap stabilitas energi kawasan.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan