Pertemuan Presiden Prabowo dengan tokoh nasional dinilai sebagai langkah memperkuat konsolidasi politik domestik guna mengantisipasi dampak geopolitik konflik AS–Iran.
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan presiden, mantan menteri luar negeri, serta para ketua umum partai politik di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai memiliki dimensi politik yang lebih dalam daripada sekadar respons terhadap dinamika geopolitik.
Pengamat politik Arifki Chaniago melihat langkah tersebut sebagai bentuk manajemen risiko politik jangka menengah, bukan hanya respons terhadap situasi luar negeri.
“Ini bukan hanya soal perang di Timur Tengah. Ini soal bagaimana Presiden Prabowo mengelola potensi dampak politik di dalam negeri. Geopolitik sering kali menjadi pemicu tekanan ekonomi, dan tekanan ekonomi dapat dengan cepat berubah menjadi tekanan politik,” ujar Arifki, Rabu (4/3).
Menurutnya, konflik AS–Iran selalu beririsan dengan isu energi global. Jika harga minyak melonjak dan inflasi meningkat, beban fiskal negara akan ikut membesar. Dalam konteks itu, pemerintah membutuhkan payung legitimasi yang lebih luas agar kebijakan penyesuaian ekonomi tidak dipersepsikan sebagai keputusan sepihak.
“Jika nanti muncul kebijakan yang tidak populer akibat situasi global, pemerintah dapat menunjukkan bahwa langkah tersebut lahir dari pembacaan kolektif para negarawan, bukan keputusan satu figur,” jelasnya.