Pemerintah Israel menyatakan akan tetap menggunakan kekuatan penuh di Lebanon meskipun gencatan senjata masih berlangsung, jika pasukannya menghadapi ancaman di lapangan.
Dilansir dari Channel Asia News, Senin (20/4), Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan pihaknya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan militer untuk bertindak tegas demi melindungi tentara Israel.
“Perdana Menteri dan saya telah memerintahkan militer untuk bertindak dengan kekuatan penuh, baik di darat maupun udara, termasuk selama gencatan senjata, untuk melindungi pasukan kami di Lebanon dari ancaman apa pun,” ujar Katz.
Ia juga menegaskan bahwa militer diperintahkan menghancurkan bangunan atau infrastruktur yang dianggap berbahaya, termasuk yang telah dipasangi jebakan atau bahan peledak.
Menurut Katz, langkah tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman dari kelompok Hizbullah di wilayah perbatasan, sekaligus melindungi komunitas Israel di bagian utara.
“Tujuan utama operasi ini adalah melucuti Hizbullah dan menghilangkan ancaman terhadap warga di wilayah utara,” katanya.
Meski gencatan senjata selama 10 hari telah berlaku sejak Jumat lalu, situasi di Lebanon selatan tetap memanas. Seorang tentara Israel dilaporkan tewas setelah memasuki bangunan yang telah dipasangi jebakan.
Militer Israel juga dilaporkan melakukan penghancuran bangunan di wilayah Bint Jbeil, yang sebelumnya menjadi lokasi pertempuran sengit dengan Hizbullah sebelum gencatan senjata diberlakukan.
Katz sebelumnya menyatakan bahwa Israel akan terus menghancurkan rumah-rumah di dekat perbatasan sebagai bagian dari upaya membentuk zona keamanan di Lebanon selatan.
Ia juga memperingatkan bahwa jika pemerintah Lebanon gagal memenuhi kewajibannya dalam menjaga keamanan, maka militer Israel akan terus melakukan operasi militer.
“Jika pemerintah Lebanon terus gagal menjalankan kewajibannya, maka militer akan bertindak melalui operasi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Konflik di Lebanon sendiri meningkat sejak awal Maret, ketika kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dalam konflik dengan Amerika Serikat.
Israel kemudian merespons dengan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah di Lebanon, termasuk melancarkan invasi darat di bagian selatan negara tersebut.