Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melanjutkan pembatasan senjata nuklir strategis setelah berakhirnya perjanjian New Strategic Arms Reduction Treaty (New START).
Berakhirnya New START menandai hilangnya pembatasan hukum terakhir atas persenjataan nuklir Amerika Serikat dan Rusia, dua negara dengan persediaan senjata nuklir terbesar di dunia. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade, tidak ada perjanjian pengendalian senjata yang mengikat secara hukum antara kedua negara tersebut, melansir dari Economic Times, Jumat (6/2).
Menanggapi usulan Putin, Trump menyampaikan sikapnya melalui media sosial. Ia menilai New START sebagai perjanjian yang merugikan Amerika Serikat.
“Daripada memperpanjang NEW START sebuah kesepakatan yang dinegosiasikan dengan buruk oleh Amerika Serikat dan, di luar itu semua, telah dilanggar secara besar-besaran. Kita seharusnya meminta para ahli nuklir kita menyusun perjanjian baru yang lebih baik, lebih modern, dan mampu bertahan lama di masa depan,” tulis Trump.
Trump mengaitkan penolakannya dengan kebijakan penguatan militer Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa kekuatan pertahanan negaranya berada pada level tertinggi.
“Amerika Serikat adalah negara paling kuat di dunia,” ujar Trump,
Trump mengaku telah membangun kembali militer Amerika Serikat sejak masa jabatannya yang pertama, termasuk pengembangan dan pembaharuan senjata nulir secara besar-besaran.
Ia juga menyinggung pembentukan Space Force serta peningkatan kapasitas di berbagai matra militer, termasuk angkatan laut. Trump menyebut penambahan kapal perang yang menurutnya 100 kali lebih kuat dibandingkan kapal-kapal era Perang Dunia II, seperti USS Iowa dan USS Missouri.
Perlu diketahui, New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Perjanjian ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis dan sistem pengirimannya yang dikerahkan oleh kedua negara.
Namun, sejak Februari 2023, Rusia menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut. Putin menyatakan Rusia tidak dapat mengizinkan inspeksi Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Rusia ketika Amerika Serikat dan negara-negara NATO secara terbuka menyatakan kekalahan Rusia di Ukraina.
Selama beberapa dekade, New START menjadi perjanjian terakhir dalam rangkaian panjang kesepakatan pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, yang dimulai sejak SALT I pada 1972. Berakhirnya perjanjian ini memunculkan kekhawatiran baru akan meningkatnya risiko perlombaan senjata nuklir global.