Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam kepada Presiden Israel Isaac Herzog karena tidak memberikan pengampunan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah menghadapi dakwaan suap.
Trump menyebut Herzog “memalukan” karena menolak memberikan grasi kepada Netanyahu.
“Anda punya seorang presiden yang menolak memberinya pengampunan. Saya pikir orang itu seharusnya malu pada dirinya sendiri,” kata Trump, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (13/2).
Ia juga meminta publik Israel menekan Herzog agar menggunakan kewenangannya sebagai presiden untuk memberikan pengampunan.
“Dia memalukan karena tidak memberikannya. Dia seharusnya memberikannya,” ujar Trump.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump menjamu Netanyahu di Gedung Putih. Pertemuan tersebut menjadi yang ketujuh sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden AS tahun lalu.
Netanyahu saat ini menghadapi tuduhan menerima hadiah mewah sebagai suap serta dugaan upaya membuat kesepakatan dengan media demi memperoleh pemberitaan yang menguntungkan pemerintahannya. Persidangan atas kasus tersebut dimulai pada 2020, namun beberapa kali tertunda akibat situasi keamanan dan dinamika geopolitik di kawasan, termasuk perang di Gaza.
Dalam sistem Israel, presiden memiliki kewenangan memberikan pengampunan, meski perannya sebagian besar bersifat seremonial. Menanggapi pernyataan Trump, kantor Herzog menegaskan setiap permohonan grasi harus melalui prosedur hukum yang berlaku.
“Permintaan pengampunan Netanyahu saat ini sedang ditinjau di Kementerian Kehakiman untuk mendapatkan pendapat hukum sesuai prosedur yang telah ditetapkan,” demikian pernyataan kantor kepresidenan Israel.
Pihak Herzog juga menegaskan bahwa Israel adalah negara berdaulat yang dijalankan berdasarkan supremasi hukum.
Selain menghadapi perkara di dalam negeri, Netanyahu juga dilaporkan menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional terkait dugaan kejahatan perang di Gaza.
Pernyataan terbaru Trump dinilai mempertegas kedekatan hubungan politik antara dirinya dan Netanyahu, sekaligus menunjukkan sikap terbuka Washington dalam menyuarakan pandangan terkait proses hukum di Israel.