close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pemulihan Lawe Alas di perbatasan Aceh Tenggara-Gayo Lues. dok. Satgas PRR/Kementerian PU
icon caption
Pemulihan Lawe Alas di perbatasan Aceh Tenggara-Gayo Lues. dok. Satgas PRR/Kementerian PU
Peristiwa
Kamis, 27 Agustus 2026 17:46

Normalisasi Lawe Alas rampung lebih cepat

Pekerjaan yang ditargetkan selesai pada Agustus 2026 itu telah rampung pada Juli 2026. Percepatan dilakukan agar perlindungan kawasan di sekitar sungai dapat diperkuat sebelum memasuki puncak musim hujan.
swipe

Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menyelesaikan normalisasi dan penguatan tebing Sungai Alas atau Lawe Alas yang melintasi Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Penanganan tersebut dilakukan untuk melindungi permukiman, lahan pertanian, dan akses masyarakat dari ancaman erosi, luapan air, serta banjir bandang.

Pekerjaan yang ditargetkan selesai pada Agustus 2026 itu telah rampung pada Juli 2026. Percepatan dilakukan agar perlindungan kawasan di sekitar sungai dapat diperkuat sebelum memasuki puncak musim hujan.

Site Manager Operasional Hutama Karya, Utama, mengatakan pekerjaan difokuskan pada normalisasi alur sungai dan pemasangan bronjong. Struktur anyaman kawat berisi batu tersebut dipasang untuk memperkuat tebing sekaligus menahan arus agar tidak menggerus kawasan di sekitarnya.

Normalisasi diperlukan karena aliran sungai di sejumlah lokasi bergeser dari jalur semula setelah bencana. Kondisi tersebut menyebabkan air mendekati permukiman, lahan pertanian, dan akses jalan sehingga membutuhkan penanganan segera.

Untuk mempercepat penyelesaian, tim menambah alat berat dan menerapkan dua giliran kerja. Langkah tersebut ditempuh di tengah kendala cuaca, keterbatasan akses, dan pasokan material ke lokasi pekerjaan.

“Kami lembur malam, dua shift sampai pukul 12 malam. Tantangan kami terkait material dan juga akses. Kalau selama ini, alhamdulillah, bisa kami atasi semua,” kata Utama.

Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air BWS Sumatera I Syafrepi Hasibuan mengatakan pekerjaan tersebut merupakan bagian dari paket tanggap darurat yang mencakup 30 titik penanganan. Secara keseluruhan, normalisasi sungai dan pembangunan tanggul dilakukan sepanjang 16.046 meter, disertai pemasangan bronjong sepanjang 5.938 meter.

Pekerjaan senilai Rp137 miliar tersebut didanai Kementerian Pekerjaan Umum. Bronjong dibangun dengan ketinggian rata-rata empat hingga lima meter untuk memperkuat perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

Selain mengembalikan alur sungai dan memperkuat tebing, penanganan tersebut membantu membuka kembali akses jalan yang sebelumnya terendam akibat pergeseran aliran air. Syafrepi memastikan pekerjaan di wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara telah selesai.

“Kondisi sekarang, pekerjaan di Gayo Lues dan Aceh Tenggara sudah selesai 100 persen,” kata Syafrepi.

Manfaat penanganan itu dirasakan warga Kute Galuh, Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara. Asmanida, salah seorang warga, mengatakan keluarganya kini tidak lagi diliputi kecemasan setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

“Alhamdulillah, sudah tidak banjir lagi. Kami bisa tidur nyenyak. Sebelum dipasang bronjong, kami ketar-ketir karena kalau hujan langsung banjir sepinggang. Sekarang sudah tidak,” kata Asmanida.

Warga Kute Lengat Pagan di Kecamatan Bukit Tusam juga berinisiatif menanam pohon waru di sekitar bronjong. Kepala Desa Kute Lengat Pagan Riko Miljar mengatakan pohon tersebut diharapkan menjadi peredam alami agar bronjong tidak langsung menerima hantaman arus deras dan dapat berfungsi lebih lama.

“Ini dilakukan warga supaya bronjong tidak cepat rusak. Jadi, ada penahannya dari pohon waru ini,” ujar Riko

img
Tim copywriter
Reporter
img
Tim copywriter
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan