Kelompok Houthi dilaporkan berhasil menguasai sejumlah titik strategis di Yaman setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak membatalkan rencana serangan udara skala besar pada menit-menit terakhir.
Keputusan pembatalan serangan militer tersebut memicu ekskalasi baru di kawasan, di mana pejuang Houthi memanfaatkan peluang tersebut untuk memperluas jangkauan kendali mereka di wilayah barat daya Yaman yang berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional Laut Merah.
Berdasarkan The Guardian (21/9/2026) atas laporan intelijen dan sumber diplomatik kawasan, serangan AS telah direncakan untuk menargetkan basis komando serta infrastruktur rudal Houthi. Namun, perintah pembatalan mendadak Washington memberi ruang bagi Houthi untuk melancarkan serangan balasan dan mengamankan posisi penting di darat.
Langkah Houthi ini memperkuat mereka dalam mengontrol lalu lintas kapal komersial global di wilayah tersebut. Jalur Laut Merah merupakan salah satu rute maritim terpenting yang menghubungkan Asia dan Eropa, tempat kapal kargo dan tanker minyak global berlalu-lalang.
Hingga saat ini, pihak AS belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan pasti di balik pembatalan serangan udara tersebut. Sementara itu, para pengamat memperingatkan bahwa penguasaan medan baru oleh Houthi dapat memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman serta memicu ketegangan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah (The Guardian, 21/9/2026).
Peningkatan konflik di Yaman dan potensi gangguan keamanan di Laut Merah berisiko berdampak pada kenaikan biaya logistik pengapalan barang internasional serta potensi gejolak harga minyak mentah dunia yang dapat memengaruhi asumsi subsidi energi domestik Indonesia.