sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Adaro milik konglomerat Boy Thohir, habiskan Rp3,4 triliun

Perusahaan milik konglomerat Boy Thohir, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) telah menghabiskan belanja modal US$245 juta, setara Rp3,4 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 26 Agst 2019 20:32 WIB
Adaro milik konglomerat Boy Thohir, habiskan Rp3,4 triliun

Perusahaan milik konglomerat Boy Thohir, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) telah menghabiskan belanja modal US$245 juta, setara Rp3,4 triliun pada paruh pertama tahun ini.

Sepanjang tahun ini, perusahaan tambang dengan sandi saham ADRO tersebut menganggarkan capital expenditure (Capex) senilai US$450 juta-US$600 juta, setara Rp8,52 triliun.

Sekretaris Perusahaan Adaro Mahardika Putranto mengatakan sebagian besar capex tersebut digunakan untuk peremajaan peralatan berat di anak usahanya, PT Saptaindra Sejati (SIS).

"Kedua digunakan untuk pengembangan tambang Adaro MetCoal Company (AMC)," kata Mahardika saat paparan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (26/8).

Direktur Keuangan Adaro Energy Lie Luckman mengatakan dana belanja modal tersebut sepenuhnya berasal dari kas internal perusahaan.

"Belum ada rencana pendanaan capex ini dari bank sampai saat ini. Uang kita masih cukup untuk memenuhi kebutuhan capex tahun ini," ujar Lie. 

Sementara untuk dana penambahan capex di tambang Kestrel Australia, Lie mengatakan cukup minimal. Sebab, kapasitas produksi di Kestrel sudah cukup jadi, sehingga Adaro hanya mengusahakan peningkatan efisiensi dari proses produksi batu bara.

Lie melanjutkan, karena tambang Kestrel adalah tambang bawah tanah pertama yang mereka miliki, Adaro masih mendalami operasi di sana dan tengah berusaha meningkatkan efisiensi operasi dari tambang Kestrel.

Sponsored

"Kita berharap ada peningkatan produksi batu bara sekitar 40% dari sana ke angka sekitar 6,7 juta ton," tutur Lie.

Hingga saat ini, Adaro belum berencana untuk melakukan refinancing pada pinjaman sebesar US$1,5 miliar tahun lalu. Pinjaman dari 14 bank nasional dan internasional tersebut sebelumnya digunakan untuk mengakuisisi tambang Kestrel di Australia milik Rio Tinto. 

Untuk diketahui, Adaro mencatatkan kenaikan pendapatan usaha bersih sebesar 10% menjadi US$1,775 miliar pada semester I-2019, dari US$1,610 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun laba bersih perseroan meningkat 51,7% menjadi US$296 juta pada semester I-2019 dari US$195 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.