logo alinea.id logo alinea.id

Alternatif investasi saat ekonomi bergejolak

Iklim pasar investasi masih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan politik Indonesia yang mendadak bergejolak.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 09 Okt 2019 00:16 WIB
Alternatif investasi saat ekonomi bergejolak

Iklim pasar investasi masih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan politik Indonesia yang mendadak bergejolak di masa akhir pemerintahan Joko Widodo periode pertama.

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth, Ivan Jaya, merekomendasikan investor untuk melakukan diversifikasi investasi ke obligasi retail seperti ORI016 yang bisa dibeli secara online untuk meraup hasil investasi yang optimal.

"Berdasarkan data historis, pasar saham Indonesia umumnya positif di kuartal IV, sementara itu pasar obligasi berpotensi menguat saat era penurunan suku bunga," kata Ivan dalam keterangan tertulis yang diterima Alinea.id, Selasa (8/10).

Ivan menilai produk obligasi yang baru diluncurkan Kementerian Keuangan, ORI016, merupakan pilihan menarik untuk investasi di obligasi. Selain karena lebih tidak berisiko, investor dapat mulai berinvestasi mulai dari Rp1 juta. ORI016 ini pun memiliki kupon 6,8% gross per tahun yang berada di atas suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,25%.

Investor, kata Ivan, berpotensi memperoleh capital gain di era penurunan suku bunga ini. ORI016 ini memiliki tenor selama tiga tahun hingga 15 Oktober 2022. Pembayaran kupon akan dilakukan pada tanggal 15 setiap bulannya, dengan kupon pertama dibayarkan pada 15 Desember 2019.

Ivan menyarankan investor melakukan diversifikasi portofolio investasinya sebab penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat di pertengahan September masih belum mampu membawa perubahan arah investasi, karena investor masih berada pada posisi risk off mode.

Ivan melanjutkan, di samping itu, penyerangan ladang minyak Arab Saudi oleh drone yang tidak dikenal memperkeruh kondisi politik dunia. Di saat bersamaan, kondisi geopolitik Asia pun semakin panas setelah demonstrasi Hong Kong yang belum berakhir, disusul oleh demonstrasi di Indonesia.

Sentimen global dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China ini juga berdampak ke Indonesia. Salah satunya dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena berkurangnya nilai investasi asing, dan ekspor yang tumbuh melambat akibat harga komoditas yang tertekan.

Sponsored

Meski demikian, lanjut Ivan, Indonesia masih menjadi sasaran investasi investor asing. Sebab, saat ini investor asing cenderung menyukai surat utang negara (SUN) atau obligasi dibandingkan dengan pasar saham.

“Karena dalam kondisi sentimen negatif dari global dan kondisi politik Indonesia yang bergejolak karena demonstrasi, investor asing cenderung berada pada risk off mode,” ujar Ivan.

Ivan pun menyebutkan ada beberapa isu yang perlu diwaspadai dalam membuat strategi investasi di bulan Oktober ini. Isu tersebut antara lain perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Tiongkok terkait perang dagang, jadwal laporan keuangan pasar saham kuartal III-2019, kebijakan moneter bank sentral di dunia, pelantikan presiden Indonesia di pertengahan Oktober, dan babak final perundingan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa (Brexit).

“Bank Sentral di penjuru dunia diprediksi akan melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan nilai suku bunga, sementara dari sisi domestik prosesi pelantikan Presiden Indonesia yang diprediksi berlangsung aman, walaupun beberapa waktu sempat terjadi demonstrasi, akan menjadi katalis positif bagi Indonesia,” tutur Ivan.