Di tengah dinamika politik pasca-Pilpres 2024 yang masih cair, pertemuan Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Cikeas menarik perhatian publik. Momentum yang dibalut silaturahmi Lebaran ini dinilai tidak sekadar pertemuan biasa, melainkan menyimpan sinyal awal konsolidasi dan penjajakan arah politik menuju 2029.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga “memancing” isu lama, yakni peluang duet Anies–AHY kembali terbuka pada Pilpres 2029.
Arifki mengatakan, momentum halal bihalal kerap menjadi ruang komunikasi politik yang sarat makna di antara elite. Dalam konteks ini, pertemuan di Cikeas dinilai memiliki simbolisme untuk membuka kembali opsi kerja sama politik.
“Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ujar Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia itu dalam keterangannya yang diterima Alinea.id.
Ia menjelaskan, kedekatan Anies dengan Partai Demokrat memiliki jejak panjang. Salah satunya terlihat saat Anies mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat 2014 yang digagas pada era kepemimpinan SBY.
“Artinya, hubungan Anies dengan Demokrat bukan hal baru. Sudah ada irisan sejarah politik sejak 2014,” kata Arifki.
Selain itu, pada Pemilihan Presiden 2024, pasangan Anies–AHY sempat menjadi skenario utama sebelum akhirnya batal pada tahap akhir. Hal ini, menurut Arifki, memperkuat bahwa keduanya memiliki basis komunikasi politik yang telah terbangun.
Arifki menambahkan, peluang duet tersebut akan sangat bergantung pada dinamika politik ke depan, terutama terkait posisi AHY dalam pemerintahan Prabowo Subianto.
“Situasi ini juga bisa dibaca sebagai sinyal. Di tengah cairnya komunikasi politik Prabowo dengan berbagai tokoh seperti Megawati dan Jokowi, AHY tampaknya ingin menyiapkan opsi politik. Anies bisa menjadi salah satu ‘payung’, begitu pula AHY bagi Anies agar peluang politiknya tetap hidup menuju 2029,” ujarnya.
Menurutnya, jika Partai Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, maka kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang Pilpres 2029.
“Kalau Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, maka peluang membangun poros baru bersama Anies akan terbuka,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai tantangan terbesar duet tersebut terletak pada ambisi politik masing-masing tokoh. Baik Anies maupun AHY sama-sama memiliki posisi tawar sebagai calon presiden.
“Ini yang perlu dicarikan titik temu. Namun, dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” jelasnya.
Arifki juga menilai pertemuan yang berlangsung di kediaman SBY memiliki makna simbolik. Cikeas, menurutnya, kerap menjadi ruang penting dalam pengambilan arah politik Partai Demokrat.
“Jika pertemuan ini berlangsung hangat, artinya komunikasi politik tidak hanya terbuka, tetapi juga mendapat ruang yang serius,” katanya.
Ia menegaskan, pertemuan tersebut memang belum merupakan keputusan politik. Namun, cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam kemungkinan duet Anies–AHY kembali muncul pada Pilpres 2029.