sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Asing kabur, transaksi harian obligasi melejit hingga Rp40 triliun

Total transaksi harian didominasi SBN sebesar Rp38,6 triliun.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 09 Nov 2020 18:04 WIB
Asing kabur, transaksi harian obligasi melejit hingga Rp40 triliun

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terjadi kenaikan transaksi harian di pasar obligasi selama delapan bulan pertama tahun 2020. Total transaksi harian untuk pasar obligasi tersebut mencapai Rp40 triliun yang didominasi transaksi surat berharga negara (SBN) sebesar Rp38,6 triliun dan swasta Rp1,4 triliun.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, rata-rata transaksi harian ini melebihi estimasi dan target BEI di awal tahun, yaitu sebesar Rp33 triliun.

"Investor asing banyak yang keluar dari Indonesia, sehingga transaksi harian melejit Rp40 triliun," kata Laksono dalam konferensi pers BEI, Senin (9/11).

Keluarnya asing dari pasar obligasi Indonesia tercermin dari data kepemilikan obligasi Indonesia. Hingga Agustus, komposisi kepemilikan investor asing pada SBN tercatat sebanyak 28,24%, turun dari tahun 2019 sebanyak 38,57%.

"Kepemilikan asing di SBN mengalami penurunan karena pandemi. Ini menunjukkan dana keluar tidak hanya terjadi di equity, tetapi juga terjadi di pasar obligasi," ujar dia.

Sementara untuk kepemilikan asing di obligasi swasta, memiliki porsi 7,7% meningkat sedikit dibandingkan tahun lalu sebesar 7,5%. Laksono menuturkan obligasi swasta memang lebih banyak dimiliki oleh investor lokal. Sedangkan investor asing cenderung membeli obligasi swasta yang dikeluarkan dalam mata uang dolar Amerika Serikat.  

Adapun hingga September 2020, total nilai outstanding obligasi Indonesia telah mencapai Rp3.881 triliun yang terdiri dari outstanding SBN Rp3.461 triliun dan outstanding corporate bond Rp419 triliun. BEI mengestimasikan hingga 2024, total nilai outstanding pasar obligasi Indonesia bisa mencapai Rp7.317 triliun.

"Kalau kami bandingkan, ini angka yang cukup masuk akal diharapkan. Terutama ketika masuk ke pasar tahun depan, dengan ekonomi yang sudah mengalami perbaikan sehingga penerbitan dari pemerintah maupun swasta diharapkan meningkat," ucapnya.

Sponsored
Berita Lainnya